Travel

Blusukan Jelajah Pantai di Gunung Kidul

Jelajah Pantai di Gunung Kidul

Ditengah teriknya matahari, motor matic yang kami tumpangi melaju kencang menyusuri jalan berkelok di wilayah jalur selatan Gunung Kidul. Keringat bak air terjun dan rambutpun semakin lepek akibat terperangkap lama dalam helm.

Kami mengambil jalur blusukkan yang jarang dilalui kendaraan besar. Kami melewati jalan imogiri terus ke arah jalan panggang.

Menikmati Keindahan Warna Air Laut Pantai Kesirat

Setelah memacu kendaraan naik turun bukit akhirnya dari kejauhan mulai tampaklah hamparan lautan biru. Itulah pantai kesirat, pantai pertama tujuan kami dari touring jelajah pantai di Gunung Kidul ini.

Kami menitipkan sepeda motor di dekat warung kecil, setelah itu kami menyusuri jalan setapak menuju bibir pantai kurang lebih sekitar 1 km. Suasana saat itu tidak begitu ramai, meskipun sudah lewat jam 12 siang.

Keringat semakin deras mengucur dan langkah kaki semakin berat. Tak sia-sia bermandikan keringat, kami disuguhkan keindahan pantai yang unik.

Iya, pantai ini unik karena di sini tidak ada hamparan pasir putih. Di sini yang ada justru tebing karang kokoh yang membetengi deburan ombak.

Keunikan lainnya, di saat gelombang air laut menghantam tebing karang tampaklah perpaduan air laut yang indah berwarna hijau kebiruan yang sungguh menyejukkan mata memandang.

Indahnya warna air Pantai Kesirat
Tebing di Pantai Kesirat

Menyusuri Jalan Terjal Menuju Pantai Ngeden dan Pantai Butuh

Puas menikmati keindahan Pantai Kesirat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Ngeden dan Pantai Butuh. Kedua pantai ini termasuk yang belum begitu populer di kalangan wisatawan.

Biasanya kawasan wisata pantai yang belum begitu populer ini akses jalannya cukup sulit. Namun, bagi para wisatawan pecinta jelajah track terjal, ini akan menjadi tantangan yang menarik.

Beberapa kali saya sebagai penumpang bolak balik membuka google maps memastikan jalan yang kami tempuh tidak salah. Keluar dari jalan beraspal, motor matic yang kami kendarai mengarah ke jalan kecil yang cukup terjal.

Sempat pula saya harus turun dan berjalan kaki supaya motor yang kami kendarai kuat menanjak. Kami melewati area persawahan dan tegalan yang jauh dari kebisingan dan kemacetan. Tak jarang juga kami berpapasan dengan ibu-ibu pemanggul pakan ternak yang tetap ramah meskipun tampak lelah.

Jangan tanya bagaimana sinyal internet di area ini, sudah pasti zonk. Tak bisa kami mengandalkan mbah Gmaps untuk menemukan lokasi tujuan. Dengan berbekal informasi dari penduduk yang kami temui selama di perjalanan akhirnya kami bisa sampai di tujuan.

Jalan terjal menuju Pantai Ngeden dan Pantai Butuh

Di Pantai Ngeden beberapa warung kecil dan juga gubuk peristirahatan sudah dibangun berjejer menghadap ke arah laut lepas. Begitupun fasilitas lain seperti toilet pengunjung dan area parkir motor dan mobil.

Pantai Ngeden

Sedikit berbeda dengan Pantai Ngeden, selain akses jalannya lebih sulit pembangunan fasilitas wisata di Pantai Butuh juga masih terbatas. Selama di Pantai Butuh kami hanya menjumpai satu warung kecil yang sekaligus sebagai tempat parkir motor. Jumlah wisatawan yang berkunjung di pantai ini pun bisa dihitung dengan jari-jari sebelah tangan.

Pantai Butuh

Mengunjungi Spot Wisata Favorit di Pantai Ngrenehan, Nguyahan, dan Ngobaran

Meninggalkan Pantai Ngeden dan Pantai Butuh, rute selanjutnya yaitu menuju kawasan Pantai Ngrenehan, Nguyahan, dan Ngobaran yang jaraknya cukup jauh yaitu kurang lebih 45 menit. Walapun jaraknya lumayan jauh namun akses jalan menuju pantai sudah bagus. Semua jalannya sudah beraspal dan cukup lebar untuk berpapasan kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Untuk masuk ke kawasan tiga pantai tersebut, wisatawan cukup membayar sekali tiket masuk sebesar sembilan 9 ribu rupiah untuk 2 orang. Kawasan pantai ini terbilang cukup ramai dikunjungi wisatawan.

Selain fasilitas wisata yang lebih lengkap, pedagang yang ada juga lebih beragam mulai dari yang menjual makanan ringan dan minuman, menjajakan cindera mata, menyewakan tikar, sampai menjual hasil tangkapan laut yang bisa langsung dimasak.

Pantai Ngrenehan

Pembangunan akses jalan serta fasilitas pendukung pariwisata telah mendorong pertumbuhan sektor ini dalam kontribusinya terhadap pendapatan daerah Kabupaten Gunung Kidul. Sejak kurang lebih 25 tahun lalu pertama kali saya mengunjungi kabupaten ini hingga kali ini, telah banyak pembangunan yang terus digalakkan. Bahkan kabupaten yang terkenal dengan makanan khas Tiwul ini digadang-gadang menjadi Bali keduanya Indonesia.

Bagaikan habis gelap terbitlah terang, tak ada yang menyangka bahwa kabupaten yang identik dengan kemiskinan dan kekeringan serta tingkat kasus bunuh diri yang tinggi ini kini menjadi salah satu destinasi wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Melihat Gunung Kidul masa lalu dan masa kini selalu menjadi cerita menarik yang tak pernah habis untuk diulik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *