Travel

Titik Nol Kilometer, Titiknya Nostalgia Jogja

Titik Nol Kilometer

“Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja.” Begitulah sepenggal lirik lagu Sesuatu di Jogja dari Adhitia Sofyan. “Sesuatu” bukan hanya milik Si Syantiek Syahrini saja. Jogja pun punya sesuatu yang istimewa.

Kemana pun kaki melangkah mengembara, saya selalu kembali lagi ke Jogja. Bukan saja karena saya pernah menghabiskan masa-masa remaja di kota gudeg ini, tapi Jogja memang bagaikan perpustakaan bagi banyak cerita tak terlupakan.

Kalian pernah ke Titik Nol Kilometer? Spot menarik di ujung jalan Malioboro ini merupakan kawasan wajib dikunjungi wisatawan. Katanya ga ke Jogja kalo ga ke titik nol kilometer.

Mungkin bagi warga Jogja yang sudah sering lalu lalang di titik nol, spot wisata ini sudah dianggap biasa. Tapi coba deh buat kalian yang bukan orang Jogja atau anak rantau dari Jogja, di titik nol ini pasti suasananya berbeda.

Semua cerita selama di Jogja seakan-akan tersimpan di jantung kota ini, titik nol kilometer. Perasaan rindu dengan semua kenangan manis dan pahit mewarnai setiap sudut-sudutnya.

Lalu, apa yang membuat titik nol kilometer begitu memorable?

Lokasi Strategis dan Syarat Makna

Kawasan titik nol kilometer Yogyakarta merupakan titik pertemuan antara Jalan A. Yani, Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan Panembahan Senopati, dan ruas jalan menuju alun-alun utara (Keraton Yogyakarta). Jadi, kawasan ini memang menjadi denyut nadi jantungnya kota Yogyakarta. Sebagai pusatnya kota maka kemanapun pergi mengelilingi Jogja disinilah patokannya.

Selain itu menurut mitos, titik nol kilometer Jogja ini berada pada lintasan garis Imajiner atau yang sering disebut sebagai sumbu filosofis kota Yogyakarta. Garis itu memanjang dari utara ke selatan yang menghubungkan Gunung Merapi di utara dengan pantai parangtritis di Selatan yang melalui Keraton Yogyakarta.

Sumbu filosofis itu melambangkan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam.

Kawasan Eropa-nya Jawa

Di sekitar kawasan titik nol terdapat bangunan-bangunan cagar budaya hasil peninggalan masa lalu. Sebagai contoh Benteng Vredeburg, Monumen Serangan Umum 1 Maret, Gedung Bank BNI, Gedung Bank Indonesia, dan Gedung Kantor Pos besar yang menjadi landmark di area ini.

Menurut cerita, area di titik nol Jogja pernah menjadi kawasan perumahan warga Belanda semasa penjajahan Belanda di Indonesia. Bahkan dahulu kala di sekitar kawasan itu pernah dibangun area pertamanan yang sangat indah.

Bangunan-bangunan masa kolonial yang penuh sejarah yang terdapat di titik nol kilometer semakin menambah nuansa nostalgia di kawasan itu. Terlebih buat kalian yang memang punya cerita tak terlupakan di sana, suasana di denyut nadi Jogja akan terasa semakin istimewa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *