Daily Journal

Ternyata Begini Rasanya Jadi Solo Backpacker

“Anak perempuan”,

“jalan-jalan sendirian”,

“gendong tas ransel yang kebesaran”,

“tidur di hotel murahan dan makan harga pinggir jalan”.

Begitulah sekiranya gambaran seorang solo backpacker yang saya pikirkan. Rupanya hal itu cukup menakutkan untuk dibayangkan apalagi dikerjakan.

Sayangnya, apa yang saya takutkan itu justru kian hari berubah menjadi rasa penasaran. Tepatnya, setelah saya membaca buku traveling dari Trinity yang saya dapatkan di akhir tahun 2015.

Dan akhirnya jadi juga, sekitar Maret 2016 saya memulai perjalanan solo backpacking untuk pertama kalinya. Kemana tujuannya? Hanoi, Vietnam jadi pilihan saya.

Dari pengamalan pertama jadi female solo backpacker ke Hanoi, ini hal-hal yang saya rasakan.

Lebih Banyak Berhitung Sebelum Mengeluarkan Uang

Salah satu hal yang paling tidak diinginkan saat traveling adalah kehabisan uang. Tapi sebagai seorang backpacker amatiran, yang juga saya takutkan adalah pengeluaran melebihi yang direncanakan.

Meskipun ceritanya sedang menjadi backpacker, tetap saja traveling itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit apalagi ke luar negeri. Jadi, dengan mindset sebagai seorang backpacker dengan budget terbatas saya harus bisa disiplin membelanjakan uang.

Saya jadi lebih sering pakai kalkulator dan cek konversi mata uang sebelum membeli sesuatu. Bahkan saya pun lebih bisa mengeluarkan effort untuk berani tawar menawar harga, yang penting pasang muka tebal saja.

Lebih Sering Mengandalkan Map

Saya memahami bahwa salah satu kelemahan perempuan adalah sulit membaca map dan itu pun saya akui. Sudah banyak kali saya salah membaca map yang berakibat driver harus putar balik.

Sayangnya, map harus jadi teman setia saya di perjalanan saat traveling apalagi saya seorang diri dan tidak tau arah kemana pun. Pernah sekali saya tersesat karena salah baca map dan bingung. Bertanya ke penduduk lokal yang ada malah saya tambah bingung sebab mereka juga tidak mengerti bahasa saya ataupun bahasa Inggris.

Makanya, sejak saat itu saya lebih sering belajar membaca map dengan benar, baik itu map hardcopy yang disediakan di penginapan atau google map sekalipun. Selain itu dengan mengandalkan map dapat meminimalisir informasi menyesatkan dari orang-orang yang punya niat jahat.

Lebih Berani SKSD dengan Orang Baru

Jadi backpacker menginap di hotel berbintang? tentu tidak. Backpacker seringnya cari penginapan dormitory alias satu kamar diisi beberapa orang biasanya 4 sampai 8 orang paling banyak.

Namanya juga jalan-jalan sendirian ya otomatis harus mau berbaur dengan teman satu kamar. Pada dasarnya kalau kita bisa berteman dengan teman seperjalanan kita ga akan sendirian kok. Cuman, syaratnya bisa dapat teman diperjalanan ya harus bisa bersosialisasi dengan orang baru. Ibaratnya harus bisa SKSD (sok kenal sok dekat).

Biasanya saya lebih sering satu kamar dengan backpacker bule-bule Eropa ketimbang dari Asia. Pertama kali masuk kamar dan dilihatin mereka yang badannya gedhe-gedhe rasanya kikuk abis dan bingung mau ngomong apa.

Tapi ya again namanya backpacker kudu modal muka tebal. Mau ga mau berani aja sok menyapa atau bahkan ngajak makan atau jalan bareng. Jangan lupa, punya banyak teman dari perjalanan itu aset berharga juga lho.

Lebih Sering Memilih Jalan Kaki Meskipun Jauh

Salah satu perubahan yang paling nampak saya rasakan ketika menjadi backpacker adalah kemampuan dan keinginan jalan kaki saya yang meningkat cukup drastis. Dulu, jalan kaki 500 meter saja rasanya jauh dan malas sekali.

Membayangkan di awal jalan kaki dengan memanggul ransel memang bukan hal yang menarik saya lakukan. Tapi kondisi saat itu dimana kendaraan umum mahal harganya dan kemampuan tawar menawar saya rendah, mau tidak mau demi menghemat budget saya memilih berjalan kaki. Setidaknya ini saya lakukan untuk jarak yang masih reasonable ditempuh dengan kaki-kaki mini saya, perkiraan masih kurang dari 10 km.

Dampak positif lainnya dengan sering berjalan kaki saat traveling adalah menjaga berat badan kita tetap ideal saat berlibur. Aktivitas traveling biasanya erat dengan meningkatnya berat badan. Tapi yang saya rasakan walaupun porsi makan saya bertambah namun justru timbangan berat badan saya tetap bahkan cenderung sedikit turun.

Lebih Percaya dengan Diri Sendiri Ketika Memutuskan Sesuatu

Namanya juga lagi traveling, pasti kita tidak familiar dengan banyak hal di tempat itu seperti jalan-jalannya, tempat yang menarik dikunjungi, restoran yang murah dan enak, ataupun tempat membeli oleh-oleh yang murah. Makanya, kita jadi lebih sering cari info rekomendasi atau bahkan bertanya ke orang-orang lokal. Itu bukan hal yang buruk, tapi harus diingat kita juga harus mendengarkan pilihan dari diri sendiri.

Beberapa kali saya mendapat rekomendasi spot kuliner murah dan enak dari penjaga penginapan. Seringnya justru pilihan-pilihan mereka itu tidak masuk dengan kriteria saya. Malahan, tempat-tempat makan yang saya pilih sendiri lebih pas dengan yang saya mau.

Pada akhirnya semua keputusan atas hal-hal yang kita lakukan itu lebih baik juga harus mendengarkan kata hati. Rekomendasi atau informasi dari orang lain adalah alat bantu untuk kita bisa memutuskan.

Dengan semua pengalaman saya selama backpacker di negeri orang, saya jadi lebih bisa mendengar kata hati sendiri. Dengan begitu saya lebih percaya diri untuk memutuskan sesuatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *