Sailing Komodo Trip #2: Lesson Learned

Tujuan mengikuti trip dari Lombok ke Labuhan Bajo bagi saya tidak hanya sebatas melepas penat setelah bergulat dengan pekerjaan kantoran. Ada hal-hal yang ingin saya cari dari perjalanan ini. Menemukan life lessons from my perspective selalu menjadi misi penting dalam setiap perjalanan saya.

Berikut ini adalah pelajaran penting yang saya dapatkan selama mengikuti open trip sailing komodo.

Do Not Let Pleasure Distract You From The Ways Towards Your Goals

Merasakan kehidupan di atas kapal berhari-hari menjadi sebuah kesempatan bagi saya untuk uji nyali. Sebelum memutuskan mengikuti trip ini saya sudah bisa membayangkan menantangnya tinggal di atas kapal selama 4 hari, terlebih kapal yang digunakan tergolong kapal ekonomi. Artinya, semua fasilitas terbatas.

Matahari sudah mulai terik, saya bersama rombongan turis asing berserta awak kapal dan tour guide sudah bersiap memasuki kapal yang terparkir di Pelabungan Bangsal, Lombok. Setelah semua siap dan mendapatkan pengarahan dari tour guide, kapal perlahan meninggalkan pelabuhan membawa kami mengarungi lautan lepas.

Hari pertama aktivitas banyak dilewatkan di atas kapal. Kami saling berbincang satu sama lain sambil menikmati eksotisme pemadangan di sepanjang perjalanan. Hingga tak terasa malam pun sudah tiba. Malam pertama tidur di deck kapal sudah membuat saya susah terlelap. Ombak di lautan pada malam hari sangat terasa sekali. Saya merasakan tidur seperti di atas ayunan besar yang sedang di dorong sekencang-kencangnya. Saya lihat si embak bule Inggris yang tidur sebelah saya tampak gelisah. Ini baru malam pertama masih ada tiga malam selanjutnya sampai tujuan akhir di Labuhan Bajo. Perjalanan masih panjang, Sist!

Pengalaman melewati malam pertama di atas kapal yang bagi saya cukup menegangkan, akhirnya terbayarkan dengan disambutnya suasana fajar di tengah lautan yang luar biasa cantiknya.

Ketika menjelang sore, senja yang cantik juga tidak lupa menutup hari indah yang kami lalui. Sementara ketika malam datang, ombak yang cukup kencang tetap datang menghantui saya. Terlebih di saat malam kedua, selain ombak yang kencang hujan pun ikut datang meramaikan suasana.

Di hari kedua sampai keempat perjalanan banyak kami lewatkan dengan pemberhentian di beberapa spot obyek wisata seperti Pulau Moyo, Pink Beach, Manta Point, dan Pulau Kelor. Tak perlu diragukan lagi kesemua spot wisata itu luar biasa cantiknya. Rasanya tak ingin kaki ini beranjak meninggalkan keindahan surga dunia tersebut. Sayangnya, perjalanan harus tetap dilanjutkan menuju destinasi terakhir, yaitu Labuhan Bajo.

Memandangi dari kapal, keindahan yang perlahan mulai menjauh seperti tak rela melepaskan. Terkadang ini juga yang nyata sering kita temui dalam kehidupan. Bahwa perjalanan menuju impian kita bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan dan bahkan godaan yang melenakan.

Be Kind For Everyone You Meet, No Matter Who They Are

Sailing komodo ini menjadi open trip pertama kali saya di Indonesia dimana hanya saya wisatawan lokal dalam rombongan, karena selebihnya turis asing Eropa dan Australia. Rombongan kami terdiri dari 15 peserta open trip dan 4 orang awak kapal. Kebanyakan para bule ini ikut open trip dengan membawa pasangan mereka. Jadi bisa dibilang hanya beberapa orang saja, termasuk saya, yang seorang diri bergabung dalam rombongan tersebut.

Meskipun hanya saya seorang diri yang bukan berkulit putih alias bule namun berada dalam rombongan wisatawan asing itu cukup menyenangkan. Saya berasa menjadi turis sekaligus tour guide mereka. Selama 4 hari hidup bersama di atas kapal banyak sekali perbincangan menarik kita tentang Indonesia. Rupanya kebanyakan dari mereka adalah full time traveler yang sudah berminggu-minggu berwisata menjelajahi Indonesia. Jadi semakin bangga menjadi orang Indonesia yang kaya akan budaya dan alam yang eksotis.

Di hari ke-3 setelah melalui pengalaman menegangkan dengan ombak besar dan hujan di tengah lautan, daya tahan tubuh saya perlahan mulai drop. Sakit kepala dan perut yang mulai tidak enak menjadi sudah menjadi alarm ketidakberesan pada tubuh saya. Dari sore hari saya hanya tiduran di matras sambil memandang lautan lepas. Hingga tak terasa saya sudah terlelap akibat efek antimo yang saya minum. Sampai akhirnya, salah seorang bule dari rombongan kami membangunkan untuk makan malam. Sedikit kaget, dengan kepala agak berat saya terbangun dan langsung turun ke bawah untuk bergabung dengan yang lainnya.

Mungkin karena pengaruh obat yang membuat saya seperti orang ‘teler’ pendengaran dan pemahaman saya tidak sinkron. Si Bule tadi menawarkan sepiring nasi dan lauk yang saya pikir itu punya dia yang ditawarkan ke saya. Saya abaikan dengan berlalu dan mengambil makanan prasmanan yang tersisa. Ternyata, bodohnya saya, si bule itu menghampiri saya lagi dengan membawa piring yang sama. Akhirnya saya sadar, bahwa ternyata dia memang sengaja sudah mengambilkan nasi dan lauk makan malam untuk saya supaya tidak kehabisan jika ada yang kalap makan. Duh, malunyaa..

Dari kebersamaan kami selama 4 hari di lautan lepas, saya semakin banyak belajar bahwa berbuat baik itu tidak perlu memandang untuk siapa dan bagaimana orang itu akan membalasnya. Bagaimanapun, kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan untuk orang lain tidak akan pernah sia-sia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s