Geliat Eksotisme Pariwisata Gunung Kidul (Part 1)

Belokan tajam jalan-jalan kecil yang berpadu dengan hijaunya pepohonan di kanan kirinya serta senyum hangat dari ’embah-embah’ yang tetap perkasa menggendong rumput pakan ternak menjadi salah satu gambaran harmonisnya keindahan alam dan masyarakat di Kabupaten Gunung Kidul. Saya tak pernah bosan untuk datang menyaksikan bagaimana alam dan kehidupan masyarakat menyatu erat beriringan mengikuti arah perkembangan jaman. Seiring waktu berjalan Gunung Kidul terus menggeliat dan menampakkan pesona nya yang memikat.

Ditengah teriknya matahari, motor matic yang kami tumpangi terus dipacu menyusuri kelok demi kelok wilayah jalur selatan Gunung Kidul. Keringat mulai bercucuran, rambut sudah lepek akibat terperangkap dalam helm cukup lama, dan belang di lengan sudah mulai nampak kelihatan. Kami mengambil jalur blusukkan yang tidak dilalui kendaraan besar, yaitu melewati imogiri terus ke arah jalan Panggang. Setelah memacu kendaraan naik turun bukit akhirnya dari kejauhan mulai tampaklah hamparan lautan biru. Itulah pantai kesirat, pantai pertama tujuan kami dari touring jelajah pantai di Gunung Kidul ini.

Setelah menitipkan sepeda motor di dekat warung kecil, kami menyusuri jalan setapak menuju bibir pantai kurang lebih sekitar 1 km. Suasana saat itu tidak begitu ramai, meskipun sudah lewat jam 12 siang. Keringat semakin deras mengucur dan langkah kaki semakin berat. Tak sia-sia bermandikan keringat, kami disuguhkan keindahan pantai yang unik. Iya, pantai ini unik karena di sini tidak ada hamparan pasir putih, yang ada justru tebing karang kokoh yang membetengi deburan ombak. Keunikan lainnya, di saat gelombang air laut menghantam tebing karang tampaklah perpaduan air laut yang indah berwarna hijau kebiruan yang sungguh menyejukkan mata memandang.

Indahnya warna air Pantai Kesirat
Tebing di Pantai Kesirat

Letak geografis Kabupaten Gunung Kidul yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia menjadikannya memiliki potensi pariwisata pantai yang menguntungkan. Hingga saat ini sudah ada hampir 50 spot wisata pantai yang bisa diakses wisatawan. Imbasnya pun pendapatan retribusi daerah lebih dari 80% diperoleh dari wisata pantai ini. Di beberapa pintu masuk kawasan pantai sudah ada petugas retribusi berseragam lengkap yang siaga menarik karcis. Sebagai contoh, di pintu masuk kawasan Pantai Kesirat, Pantai Gesing, dan Pantai Buron wisatawan diwajibkan membayar tiket masuk sebesar 9 ribu rupiah untuk 2 orang yang belum termasuk biaya parkir kendaraan.

Puas menikmati keindahan Pantai Kesirat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Gesing dan Buron. Sayangnya, jalan masuk menuju Pantai tersebut sudah dipadati kendaraan roda empat yang antri mengular. Maklum, di saat musim liburan seperti libur panjang tahun baru ini kawasan wisata pantai di Gunung Kidul selalu dipadati wisatawan. Namun, beberapa spot wisata pantai yang belum begitu populer dikalangan wisatawan bisa menjadi alternatif lain seperti Pantai Ngeden dan Pantai Butuh. Biasanya kawasan wisata pantai yang belum begitu populer ini akses jalannya cukup sulit. Namun, bagi para wisatawan pecinta jelajah track terjal, ini akan menjadi tantangan yang menarik.

Beberapa kali saya sebagai penumpang bolak balik membuka google maps memastikan jalan yang kami tempuh tidak salah. Keluar dari jalan beraspal, motor matic yang kami kendarai mengarah ke jalan kecil yang cukup terjal. Sempat pula saya harus turun dan berjalan kaki supaya motor yang kami kendarai kuat menanjak. Melewati area persawahan dan tegalan yang jauh dari kebisingan dan kemacetan serta berpapasan dengan ibu-ibu pemanggul pakan ternak yang tetap ramah meskipun tampak lelah merupakan gambaran khas suasana pedesaan yang masih asri di sekitar kawasan pantai ini. Dengan berbekal informasi dari penduduk yang kami temui selama di perjalanan, karena sinyal HP semakin menghilang, akhirnya kami bisa sampai di Pantai Ngeden dan Pantai Butuh.

Jalan menuju Pantai Butuh

Di Pantai Ngeden beberapa warung kecil dan juga gubuk peristirahatan sudah dibangun berjejer menghadap ke arah laut lepas. Begitupun fasilitas lain seperti toilet pengunjung dan area parkir motor dan mobil. Sedikit berbeda dengan Pantai Ngeden, selain akses jalannya lebih sulit pembangunan fasilitas wisata di Pantai Butuh juga masih terbatas. Selama di Pantai Butuh kami hanya menjumpai satu warung kecil yang sekaligus sebagai tempat parkir motor. Bahkan saat itu, jumlah wisatawan yang berkunjung bisa dihitung dengan jari-jari sebelah tangan. Namun, justru kawasan pantai seperti inilah yang menjadi tujuan favorit touring kami. Pantai yang belum populer dikalangan wisatawan dengan akses jalan yang cukup sulit mempunyai daya tarik tersendiri. Beruntungnya masih banyak spot-spot pantai baru yang terus mulai dibuka akses nya oleh warga sekitar bekerja sama dengan pemerintah daerah.

Pantai Ngeden
Pantai Butuh

Meninggalkan Pantai Ngeden dan Pantai Butuh, rute selanjutnya yaitu menuju kawasan Pantai Ngrenehan, Nguyahan, dan Ngobaran yang jaraknya cukup jauh yaitu kurang lebih 45 menit. Walapun jaraknya lumayan jauh namun akses jalan menuju pantai sudah bagus. Semua jalannya sudah beraspal dan cukup lebar untuk berpapasan kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Untuk masuk ke kawasan tiga pantai tersebut, wisatawan cukup membayar sekali tiket masuk sebesar sembilan 9 ribu rupiah untuk 2 orang. Kawasan pantai ini terbilang cukup ramai dikunjungi wisatawan. Selain fasilitas wisata yang lebih lengkap, pedagang yang ada juga lebih beragam mulai dari yang menjual makanan ringan dan minuman, menjajakan cindera mata, menyewakan tikar, sampai menjual hasil tangkapan laut yang bisa langsung dimasak.

Pantai Ngrenehan

Pembangunan akses jalan serta fasilitas pendukung pariwisata telah mendorong pertumbuhan sektor ini dalam kontribusinya terhadap pendapatan daerah Kabupaten Gunung Kidul. Sejak kurang lebih 25 tahun lalu pertama kali saya mengunjungi kabupaten ini hingga kali ini, telah banyak pembangunan yang terus digalakkan. Bahkan kabupaten yang terkenal dengan makanan khas Tiwul ini digadang-gadang menjadi Bali keduanya Indonesia. Bagaikan habis gelap terbitlah terang, tak ada yang menyangka bahwa kabupaten yang identik dengan kemiskinan dan kekeringan serta tingkat kasus bunuh diri yang tinggi ini kini menjadi salah satu destinasi wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Melihat Gunung Kidul masa lalu dan masa kini selalu menjadi cerita menarik yang tak pernah habis untuk diulik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s