Categories
Travel

Sensasi Perjalanan Kereta Kandy-Ella

Kemacetan dan suasana bising klakson di pagi hari sudah menyambut kedatangan saya di kota Kandy, Sri Lanka. Pada hari itu bus yang sejak subuh saya tumpangi dari Dambulla tiba di pusat kota Kandy sekitar pukul 9 pagi. Sebagai salah satu kota terbesar kedua di Sri Lanka setelah Colombo, Kandy pun tak lepas dari hiruk pikuk kemacetan dan kebisingan.

Setelah menembus rangkaian kemacetan kota yang panjang, akhirnya bus kelas ekonomi yang usianya sudah cukup tua itu menepi dan berhenti tepat di samping stasiun kereta Kandy. Menerobos kepadatan orang di dalam bus, akhirnya saya pun keluar sambil memanggul ransel besar.

Meskipun saat itu masih pagi, dari pintu gerbang masuk stasiun sudah tampak keramaian dan antrian panjang di depan loket. Sebagian besar dari mereka adalah para wisatawan asing yang sudah sejak pagi mengantri untuk mendapatkan tiket kereta menuju ke Ella.

Tidak heran jika antusias wisatawan khususnya wisatawan asing sangat tinggi sebab rute perjalanan kereta Kandy-Ella ini merupakan salah satu rute perjalanan kereta terindah di dunia. Sudah banyak sekali para travel blogger yang mengulas tentang perjalanan kereta Kandy-Ella ini dengan foto-foto alamnya yang sangat indah.

Tiket Kereta Kandy-Ella

Ada beberapa cara untuk membeli tiket kereta dari Kandy menuju Ella termasuk jika ingin menghindari antrian panjang di loket. Wisatawan bisa booking online jauh-jauh hari lewat website 12go.asia atau reservasi langsung ke stasiun kereta setidaknya satu hari sebelum keberangkatan.

Bagi wisatawan yang ingin mendapatkan harga paling murah, pilihannya adalah membeli lagsung on the spot di hari H. Tiket yang tersedia untuk pembelian on the spot hanya tiket kelas 2 tanpa reserved seat dan tiket kelas 3. Berikut ini beberapa jenis tiket yang ditawarkan.

1st class ticket– Ticket ini biasanya harus dibeli jauh-jauh hari sebelumnya karena paling cepat sold out. Gerbong kereta untuk first class ticket dilengkapi dengan Ac dan tempat duduknya pun sudah diatur. Biasanya para turis non budget yang lebih banyak membeli tiket ini. Harga tiketnya pada saat itu (tahun 2018) sekitar 1500 LKR atau 118 ribu rupiah.

2nd class ticket– Ada 2 jenis tiket untuk kelas ini yaitu tiket tanpa tempat duduk dan tiket dengan tempat duduk. Saya kebetulan mendapatkan tiket kelas 2 tanpa tempat duduk karena membeli langsung saat hari H keberangkatan. Harga tiket kelas ini jauh lebih murah dibanding tiket kelas 1 yaitu 240 LKR atau sekitar 19 ribu rupiah. Wajar saja harganya lebih murah karena gerbong kereta kelas 2 tidak menggunakan AC melainkan kipas angin.

3rd class ticket– Tiket kereta jenis ini adalah yang paling murah yaitu 130 LKR atau sekitar 10 ribu rupiah dan bisa dibeli on the spot saat hari keberangkatan. Tentunya dengan harga semurah itu untuk 6 jam perjalanan harus dibayar dengan suasana gerbong yang lebih padat dan bahkan tak jarang ada yang membawa binatang ternak seperti ayam masuk ke dalam gerbong.

Suasana Di Dalam Gerbong Kereta

Setelah mendapatkan tiket saya bergegas masuk ke dalam peron stasiun untuk menunggu datangnya kereta. Sayangnya kereta biru yang ditunggu masih belum tiba, meskipun sudah banyak wisatawan yang berdiri berjejer sepanjang peron dengan tas ransel dan koper-koper besarnya.

Perjalanan kereta Kandy-Ella hari itu akan menjadi perjalanan yang melelahkan sekaligus menngesankan. Bayangkan saja dengan berbekal tiket kelas 2 tanpa reserved seat, saya berpotensi berdiri selama 6-7 jam di gerbong kereta yang padat ditemani semilir kipas angin.

Bagaikan berebut durian runtuh begitu kereta yang ditunggu sudah tiba, semua orang saling berebut masuk pintu gerbong. Tidak hanya berebut kursi yang kosong mereka pun berebut tempat penyimpanan bagasi di atas kursi.

Saya kurang beruntung karena kalah cepat dengan bule-bule berbadan besar itu. Setidaknya satu tempat penyimpanan untuk tas ransel besar sudah saya dapatkan, jadi beruntunglah tas ransel saya yang lebih dulu dapat tempat duduk dibandingkan saya. Selebihnya, saya akan menikmati perjalanan panjang ini dengan berdiri seraya berharap ada yang berbaik hati memberikan kursinya. Sayangnya, hal itu tidak terjadi sampai tiga perempat perjalanan lebih saya berdiri.

Suasana di dalam gerbong kereta kelas 2

Pada dasarnya kereta yang saya naiki dari Kandy ke Ella ini jauh dari kata istimewa terlebih jika dibandingkan dengan kereta-kereta jarak jauh yang ada di Indonesia yang kini sudah lebih modern. Baik dari bentuk gerbongnya, tempat duduk, jendela, maupun fasilitas yang ada didalamnya, khususnya untuk gerbong kelas 2 yang saya naiki masih kalah jauh dari gerbong kereta ekonomi Jakarta-Bandung.

Pemandangan Hijau Selama Di Perjalanan

Saya yakin para wisatawan ini termasuk saya rela berdesakan dan naik kereta yang cukup padat dan panas ini hanya demi bisa menikmati pemandangan selama perjalanan menuju Ella yang terkenal dengan keindahan alamnya. Memang bisa dibilang selama perjalanan pemandangan hamparan kebun teh hijau dan pohon pinus di sisi kanan dan kiri menjadi penyejuk panasnya suasana di dalam kereta.

Tapi sepertinya saya terlalu berharap sangat tinggi dengan pengalaman menaiki kereta Kandy-Ella ini. Terus terang memang indah pemandangannya namun hamparan hijau perkebunan teh dan hutan pinus seperti ini banyak juga dijumpai di Indonesia. Bagaimanapun saya bangga menjadi orang Indonesia, negara yang memiliki kekayaan alam yang beragam dan indah.

Satu hal menarik yang juga saya temui selama di perjalanan ini adalah ritual untuk berfoto di pintu gerbong kereta dengan posisi setengah badan condong ke luar di saat kereta tengah berjalan. Memang sangat beresiko namun banyak sekali travel blogger yang meliput perjalanan kereta ini selalu memposting foto dengan pose demikian. Agaknya pose ini sudah menjadi ritual khusus para wisatawan sebagai pembuktian bahwa mereka sudah menjajal salah satu trip kereta paling cantik di dunia ini.

Setelah lelah setengah harian bergelantungan dan berdesakan di gerbong kereta, akhirnya sekitar pukul setengah 5 sore kereta ini tiba di stasiun Ella. Jangan kaget merasakan perbedaan dari kota besar seperti Kandy (ya walaupun masih kalah jauh dibanding Jakarta) dan kemudian memasuki sebuah distrik kecil seperti Ella. Suasana stasiunnya saja benar-benar seperti stasiun kuno di daerah pelosok. Tapi jangan salah, begitu keluar dari stasiun kalian akan merasakan kesejukan udara pegunungan yang masih belum banyak terpapar polusi.

Begitulah akhir perjalanan saya mencoba salah satu rute kereta terindah di dunia. Meskipun ekspektasi saya terlalu tinggi namun perjalanan ini layak dicoba khususnya bagi kalian para backpacker yang lebih menyukai wisata dengan budget terbatas. Oh ya, ketika sudah sampai di Ella satu hal yang tidak bisa dilewatkan adalah mendaki Little Adam’s Peak. Nantikan cerita saya selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *