Categories
Uncategorized

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

Categories
Travel

Sensasi Perjalanan Kereta Kandy-Ella

Kemacetan dan suasana bising klakson di pagi hari sudah menyambut kedatangan saya di kota Kandy, Sri Lanka. Pada hari itu bus yang sejak subuh saya tumpangi dari Dambulla tiba di pusat kota Kandy sekitar pukul 9 pagi. Sebagai salah satu kota terbesar kedua di Sri Lanka setelah Colombo, Kandy pun tak lepas dari hiruk pikuk kemacetan dan kebisingan.

Setelah menembus rangkaian kemacetan kota yang panjang, akhirnya bus kelas ekonomi yang usianya sudah cukup tua itu menepi dan berhenti tepat di samping stasiun kereta Kandy. Menerobos kepadatan orang di dalam bus, akhirnya saya pun keluar sambil memanggul ransel besar.

Meskipun saat itu masih pagi, dari pintu gerbang masuk stasiun sudah tampak keramaian dan antrian panjang di depan loket. Sebagian besar dari mereka adalah para wisatawan asing yang sudah sejak pagi mengantri untuk mendapatkan tiket kereta menuju ke Ella.

Tidak heran jika antusias wisatawan khususnya wisatawan asing sangat tinggi sebab rute perjalanan kereta Kandy-Ella ini merupakan salah satu rute perjalanan kereta terindah di dunia. Sudah banyak sekali para travel blogger yang mengulas tentang perjalanan kereta Kandy-Ella ini dengan foto-foto alamnya yang sangat indah.

Tiket Kereta Kandy-Ella

Ada beberapa cara untuk membeli tiket kereta dari Kandy menuju Ella termasuk jika ingin menghindari antrian panjang di loket. Wisatawan bisa booking online jauh-jauh hari lewat website 12go.asia atau reservasi langsung ke stasiun kereta setidaknya satu hari sebelum keberangkatan.

Bagi wisatawan yang ingin mendapatkan harga paling murah, pilihannya adalah membeli lagsung on the spot di hari H. Tiket yang tersedia untuk pembelian on the spot hanya tiket kelas 2 tanpa reserved seat dan tiket kelas 3. Berikut ini beberapa jenis tiket yang ditawarkan.

1st class ticket– Ticket ini biasanya harus dibeli jauh-jauh hari sebelumnya karena paling cepat sold out. Gerbong kereta untuk first class ticket dilengkapi dengan Ac dan tempat duduknya pun sudah diatur. Biasanya para turis non budget yang lebih banyak membeli tiket ini. Harga tiketnya pada saat itu (tahun 2018) sekitar 1500 LKR atau 118 ribu rupiah.

2nd class ticket– Ada 2 jenis tiket untuk kelas ini yaitu tiket tanpa tempat duduk dan tiket dengan tempat duduk. Saya kebetulan mendapatkan tiket kelas 2 tanpa tempat duduk karena membeli langsung saat hari H keberangkatan. Harga tiket kelas ini jauh lebih murah dibanding tiket kelas 1 yaitu 240 LKR atau sekitar 19 ribu rupiah. Wajar saja harganya lebih murah karena gerbong kereta kelas 2 tidak menggunakan AC melainkan kipas angin.

3rd class ticket– Tiket kereta jenis ini adalah yang paling murah yaitu 130 LKR atau sekitar 10 ribu rupiah dan bisa dibeli on the spot saat hari keberangkatan. Tentunya dengan harga semurah itu untuk 6 jam perjalanan harus dibayar dengan suasana gerbong yang lebih padat dan bahkan tak jarang ada yang membawa binatang ternak seperti ayam masuk ke dalam gerbong.

Suasana Di Dalam Gerbong Kereta

Setelah mendapatkan tiket saya bergegas masuk ke dalam peron stasiun untuk menunggu datangnya kereta. Sayangnya kereta biru yang ditunggu masih belum tiba, meskipun sudah banyak wisatawan yang berdiri berjejer sepanjang peron dengan tas ransel dan koper-koper besarnya.

Perjalanan kereta Kandy-Ella hari itu akan menjadi perjalanan yang melelahkan sekaligus menngesankan. Bayangkan saja dengan berbekal tiket kelas 2 tanpa reserved seat, saya berpotensi berdiri selama 6-7 jam di gerbong kereta yang padat ditemani semilir kipas angin.

Bagaikan berebut durian runtuh begitu kereta yang ditunggu sudah tiba, semua orang saling berebut masuk pintu gerbong. Tidak hanya berebut kursi yang kosong mereka pun berebut tempat penyimpanan bagasi di atas kursi.

Saya kurang beruntung karena kalah cepat dengan bule-bule berbadan besar itu. Setidaknya satu tempat penyimpanan untuk tas ransel besar sudah saya dapatkan, jadi beruntunglah tas ransel saya yang lebih dulu dapat tempat duduk dibandingkan saya. Selebihnya, saya akan menikmati perjalanan panjang ini dengan berdiri seraya berharap ada yang berbaik hati memberikan kursinya. Sayangnya, hal itu tidak terjadi sampai tiga perempat perjalanan lebih saya berdiri.

Suasana di dalam gerbong kereta kelas 2

Pada dasarnya kereta yang saya naiki dari Kandy ke Ella ini jauh dari kata istimewa terlebih jika dibandingkan dengan kereta-kereta jarak jauh yang ada di Indonesia yang kini sudah lebih modern. Baik dari bentuk gerbongnya, tempat duduk, jendela, maupun fasilitas yang ada didalamnya, khususnya untuk gerbong kelas 2 yang saya naiki masih kalah jauh dari gerbong kereta ekonomi Jakarta-Bandung.

Pemandangan Hijau Selama Di Perjalanan

Saya yakin para wisatawan ini termasuk saya rela berdesakan dan naik kereta yang cukup padat dan panas ini hanya demi bisa menikmati pemandangan selama perjalanan menuju Ella yang terkenal dengan keindahan alamnya. Memang bisa dibilang selama perjalanan pemandangan hamparan kebun teh hijau dan pohon pinus di sisi kanan dan kiri menjadi penyejuk panasnya suasana di dalam kereta.

Tapi sepertinya saya terlalu berharap sangat tinggi dengan pengalaman menaiki kereta Kandy-Ella ini. Terus terang memang indah pemandangannya namun hamparan hijau perkebunan teh dan hutan pinus seperti ini banyak juga dijumpai di Indonesia. Bagaimanapun saya bangga menjadi orang Indonesia, negara yang memiliki kekayaan alam yang beragam dan indah.

Satu hal menarik yang juga saya temui selama di perjalanan ini adalah ritual untuk berfoto di pintu gerbong kereta dengan posisi setengah badan condong ke luar di saat kereta tengah berjalan. Memang sangat beresiko namun banyak sekali travel blogger yang meliput perjalanan kereta ini selalu memposting foto dengan pose demikian. Agaknya pose ini sudah menjadi ritual khusus para wisatawan sebagai pembuktian bahwa mereka sudah menjajal salah satu trip kereta paling cantik di dunia ini.

Setelah lelah setengah harian bergelantungan dan berdesakan di gerbong kereta, akhirnya sekitar pukul setengah 5 sore kereta ini tiba di stasiun Ella. Jangan kaget merasakan perbedaan dari kota besar seperti Kandy (ya walaupun masih kalah jauh dibanding Jakarta) dan kemudian memasuki sebuah distrik kecil seperti Ella. Suasana stasiunnya saja benar-benar seperti stasiun kuno di daerah pelosok. Tapi jangan salah, begitu keluar dari stasiun kalian akan merasakan kesejukan udara pegunungan yang masih belum banyak terpapar polusi.

Begitulah akhir perjalanan saya mencoba salah satu rute kereta terindah di dunia. Meskipun ekspektasi saya terlalu tinggi namun perjalanan ini layak dicoba khususnya bagi kalian para backpacker yang lebih menyukai wisata dengan budget terbatas. Oh ya, ketika sudah sampai di Ella satu hal yang tidak bisa dilewatkan adalah mendaki Little Adam’s Peak. Nantikan cerita saya selanjutnya.

Categories
Life

Sudahkah Kita Bersyukur Hari Ini?

Satu hal sederhana yang terkadang mudah dilupakan yaitu bersyukur. Sudahkah kita bersyukur hari ini? Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, mengucapkan syukur dalam hati atau pun lisan bukan suatu hal yang sulit.

Di tengah kondisi pandemi yang sudah berbulan-bulan dan tak ada yang tahu berakhir kapan, sangat rentan kita terbawa dalam hal-hal yang penuh ke-negatif-an. Stres, mudah marah, putus asa, dan saling menyalahkan adalah beberapa dari sekian banyak hal negatif yang sering dijumpai dalam keseharian. Lalu, apakah hal-hal itu menjadi pembenaran untuk tidak bersyukur atas keberkahan yang sudah diberikan?

Mulailah Bersyukur dari Hal Terkecil Sekalipun

Hal-hal yang seringkali kita dapatkan dengan mudah namun menjadi konsumsi vital dalam kehidupan sehari-hari seperti udara dan sinar matahari merupakan contoh hal kecil yang sudah sewajarnya perlu disyukuri. Sayangnya, saking tak menyadari betapa mudahnya menikmati secara gratis dan setiap saat sering menjadikan manusia jauh dari rasa bersyukur.

Di saat kita terlalu fokus pada persoalan hidup yang lebih sering dikeluhkan, di saat itu juga kita semakin tidak menghargai hal-hal kecil yang masih kita miliki. Di saat kita terbangun dan masih bisa bernafas di saat itu juga kita sudah seharusnya beryukur. Tanpa bisa bernafas mana mungkin kita bisa menjalani kehidupan ini dan bahkan menggapi mimpi-mimpi yang sudah direncanakan.

Alihkan Semua Pikiran Negatif, Fokus Pada Hal-Hal Positif

Saya pernah membaca sebuah buku inspiratif berjudul ‘Think Like A Monk’ yang ditulis Jay Shetty, seorang penulis berkebangsaan Inggris yang pernah merasakan kehidupan sebagai seorang biksu di India. Dalam buku itu salah satunya ada cerita menarik dari seorang senior biksu tentang percakapan antara cucu dan kakeknya. Sang kakek menceritakan kepada cucunya bahwa:

‘Setiap pilihan dalam hidup kita adalah hasil dari sebuah pertarungan antara 2 serigala yang ada di dalam diri kita. Serigala yang satu merupakan perwujudan dari kemarahan, iri, dengki, tamak, egois, dan kebohongan. Sementara serigala yang lainnya merupakan perwujudan dari cinta, kasih sayang, kedamaian, kebaikan, kerendahan hati, dan hal positif.

“Lalu serigala yang mana yang menjadi pemenang ?” tanya sang cucu.

“Serigala yang sering kita beri makan” jawab si kakek.

“Bagaimana caranya?” tanya balik si cucu.

Sang kakek yang juga seorang senior biksu tersebut menjawab “Dengan apa yang sering kita baca dan dengar. Dengan siapa seringnya kita menghabiskan waktu. Dengan apa yang sering kita lakukan. Dengan dimana seringnya kita memfokuskan energi dan perhatian kita”.

Dari cerita sang kakek dan cucunya di atas mengajarkan kita bahwa kita memiliki kendali penuh atas diri kita terhadap apa yang menjadi pilihan hidup, positif atau negatif, penuh rasa syukur atau sering mengeluh.

Categories
Life

Renungan: What Should I Do with My Life?

Sometimes you have to lose yourself to discover who you are.

Paulo Coelho

Jangan sedih kamu bukanlah satu-satunya manusia di dunia ini yang merasa tersesat dalam hidup karena ga tau mau ngapaian. Fase ‘lost in life’ ini bisa menyerang siapa saja tak pandang usia, gender, atau pun status sosial.

Meskipun tak sepopuler COVID-19, virus ‘lost in life’ yang mengakibatkan kegalauan berkepanjangan ini bisa jadi lebih berbahaya jika tidak disikapi dengan positif. Mindset penting yang harus ditanamkan adalah it is okay to lost in life. Ini hal yang wajar kok dihadapi setiap makhluk hidup. Bahkan mungkin hewan atau pun tumbuh-tumbuhan pun mengalaminya tapi karena kita tidak tau saja.

Ketika kita melewati fase-fase ini, janganlah merasa menjadi manusia paling aneh atau menderita di muka bumi ini. Just keep focusing on finding the real you and live the life you love.

Bahkan sebetulnya orang-orang yang merasa tersesat dan hilang arah dalam hidup harus lebih bersyukur karena merasakan dan memahami bahwa dirinya tersesat. Dengan begitu, maka akan segera menyadari untuk menemukan jalan yang sebenar-benarnya diinginkan. Sebisa mungkin tersesatlah sedini mungkin.

Saat kita merasa ga tau mau ngapain dalam hidup ini, pertama yang harus dilakukan adalah terima hal itu, kedua yaitu berbahagialan ‘Anda tersesat’, dan ketiga adalah renungkanlah untuk menemukan jalan kembali. Beberapa hal ini bisa menjadi renungan untuk menemukan ‘the life that we love’.

What is my purpose in life?

Who am I?

Who do I want to become?

What makes me happy?

Where should I spend my time and energy? With whom I spend?

What makes my life meaningful, fun, and satisfying?

Teruslah berjuang untuk menemukan dirimu, menjadi dirimu, dan hidup dalam kehidupan yang kamu cintai.

Categories
Life

Berteman dengan Rasa Takut

Fear is not real. It is a product of thoughts you create. Danger is very real but fear is a choice

Will Smith

Sekitar Empat tahun lalu pertama kalinya saya melakukan solo traveling ke negara yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, Vietnam. Dengan membawa tas ransel dan perlengkapan seadanya serta berbekal limited budget akhirnya saya pun membulatkan tekad berangkat seorang diri.

Sudah tentu rasa khawatir dan takut terus menghantui ketika membayangkan hal-hal buruk menimpa saya selama dalam perjalanan. Terlebih saya seorang diri, perempuan, dan di negeri asing tanpa sanak saudara di sana.

Kenapa sih repot-repot solo traveling? Padahal liburan bareng teman atau keluarga lebih menyenangkan dan terasa lebih aman. Singkatnya, leaving my comfort zone and getting closer to myself adalah alasan utama saya terinspirasi melakukan solo traveling.

Rasa takut pada hal-hal yang belum terjadi akan selalu membayangi langkah kita dimanapun itu. Sayangnya, terkadang kita begitu mudahnya takhluk pada rasa takut yang ada dalam pikiran kita.

Dari perjalanan solo traveling ini saya belajar banyak hal, salah satu yang terpenting adalah tentang bagaimana me-manage rasa takut. So, inilah beberapa hal yang saya lakukan.

Recognize and accept the feeling

Denial would not be the best cure for whatever feelings come out from your mind.

Memahami dan menerima menjadi langkah awal paling efektif untuk menghadapi setiap perasaan yang muncul dari diri sendiri. Tak jarang kita lebih memilih untuk mengabaikan atau berusaha lari sejauh mungkin hingga akhirnya malah menjadi beban karena tak pernah terselesaikan. Self-awareness atau kesadaran diri memiliki peran penting dalam hal ini.

Become one with the feeling

You are more than just your fear, you don’t need to be afraid.

Membenci perasaan takut hanya akan menghabiskan energi positif yang ada. Mempertemukan rasa takut dengan kekuatan positif dari dalam diri seperti halnya mempertemukan api dengan air. Percaya pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi setiap permasalahan akan mentrigger kekuatan positif untuk melawan semua pikiran negatif tersebut.

Calm the feeling

Breathing in I calm my fear and breathing out I smile.

Bayangkan sebagai seorang ibu yang sedang menenangkan anak bayinya yang menangis. Jika si ibu saja tak bisa menenangkan dirinya maka akan ia pun akan kesulitan menenangkan bayinya. Sama halnya dengan rasa takut, jika kita tak bisa menenangkan diri sendiri maka menjinakkan perasaan takut pun akan lebih sulit. Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu dengan mengatur pernafasan yang bisa menenangkan hati dan pikiran.

Look it deeply

Dalam kondisi hati dan pikiran yang tenang maka kita akan menjadi lebih mudah untuk melihat penyebab utama dari rasa takut itu. Sehingga akan menjadi lebih mudah dan terarah untuk mencari jalan keluar mengatasinya. Ibarat kata, kita tidak pernah bisa melihat dengan jelas di air yang keruh, maka jernihkanlah supaya bisa melihat dengan jelas.

Sejatinya rasa takut bukanlah hal yang harus dihindari, karena dibalik rasa takut itu tersimpan banyak pelajaran berharga. Ketika kita berada di zona nyaman maka kita tidak akan pernah bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, the better version dari diri kita sendiri.

You gain strength, courage and confidence by every experience in which you really stop to look fear in the face. You must do the thing you think you can not do.

Eleanor Roosevelt

Categories
Life

Mengobati Bosan dan Sepi Saat Physical Distancing

Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan ada masa-masa seperti saat ini dimana wabah penyakit menyebar sangat cepat dan mengharuskan kita menjaga jarak dengan orang lain termasuk orang terdekat. Rasa bosan, sepi, dan sendiri tak lagi bisa dihindari ketika harus menjalankan physical distancing dan stay at home dalam jangka waktu cukup lama.

Dalam kondisi serba tak menentu yang bisa mendatangkan kegelisahan dan stress berkepanjangan, pilihan terbaik adalah tetap optimis dan melakukan hal-hal positif.

The most successful people are always looking for ways to improve. They are not satisfied with accepting their shortcomings.

Jay Shetty

So, beberapa hal ini bisa mulai dilakukan.

Menemukan ‘The Real Me’

Sudahkah kita berteman dengan diri sendiri? mendengarkan dan memahami suara-suara yang muncul dari diri kita sendiri? Jika belum, maka inilah saat yang tepat untuk lebih mengenal diri kita dan menemukan siapa kita sebenarnya.

Dengan segala kesibukan berinteraksi dengan orang-orang terdekat selama ini, terkadang kita lebih banyak mendengarkan orang lain dibandingkan diri sendiri. Berberapa hal ini bisa menjadi media untuk lebih memahami perasaan dan pikiran yang muncul dari diri kita.

Menulis jurnal harian

Menulis jurnal harian tidak seperti menulis buku atau artikel ilmiah. Jurnal berfungsi sebagai media untuk mencurahkan segala perasaan yang sedang dihadapi dengan jujur dan obyektif. Siapkan buku untuk menulis jurnal, pilihlah plain book supaya lebih mudah menuangkan segala tulisan maupun gambar-gambar. Lalu, buat jadwal khusus setiap harinya pada jam berapa harus membuat tulisan.

Me-record voice atau video sebagai jurnal harian

Terkadang bagi sebagian orang menulis bukanlah perkara yang mudah. Bahkan ada beberapa orang yang tidak menyukainya. So, agar tetap bisa mendokumentasikan pengalaman dan perasaan yang dihadapi setiap harinya bisa dilakukan dengan voice atau video recording.

Mempelajari Hal-Hal yang Disukai

Momen seperti saat ini menjadi momen yang paling produktif untuk meningkatkan skill dan knowledge. Waktu yang biasanya terbuang untuk mobilisasi di luaran bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan diri.

The most successful people in the world who are healthy, wealthy, and wise choose education over entertainment.

Jay Shetty

Beberapa cara untuk meningkatkan skill dan knowledge diantaranya seperti mengikuti kelas online atau webinar, mendengarkan podcast, membaca artikel, dan terus melatih kemampuan diri dengan practice, pratice, and practice.

Selain konsisten mengasah kemampuan, tetap fokus juga menjadi hal penting untuk dilakukan dalam rangka mengembangkan diri. fokus dalam memilih bidang pengembangan diri dan juga fokus untuk terus berlatih menjadi kunci penting tercapainya tujuan menjadi the better me.

Menjalin Komunikasi Secara Virtual

Merasa sepi dan sendiri dalam kondisi saat ini, itu wajar. Namun, akan menjadi tidak wajar jika terus menerus berlarut dalam kesepian dan kesendirian.

Beruntungnya di masa kini dimana teknologi komunikasi sudah sangat berkembang, sudah ada banyak sekali platform atau media komunikasi online yang bisa digunakan untuk tetap terhubung dengan orang-orang terdekat.

Dalam membangun komunikasi secara virtual sangat penting untuk terus menyebarkan optimisme dan saling support sehingga energi positif bisa ditularkan kepada orang lain. Jadi bukanlah penyakit yang ditularkan namun energi positif yang harus semakin banyak disebarluaskan.

Categories
Travel

Geliat Eksotisme Pariwisata Gunung Kidul (Part 1)

Belokan tajam jalan-jalan kecil yang berpadu dengan hijaunya pepohonan di kanan kirinya serta senyum hangat dari ’embah-embah’ yang tetap perkasa menggendong rumput pakan ternak menjadi salah satu gambaran harmonisnya keindahan alam dan masyarakat di Kabupaten Gunung Kidul. Saya tak pernah bosan untuk datang menyaksikan bagaimana alam dan kehidupan masyarakat menyatu erat beriringan mengikuti arah perkembangan jaman. Seiring waktu berjalan Gunung Kidul terus menggeliat dan menampakkan pesona nya yang memikat.

Ditengah teriknya matahari, motor matic yang kami tumpangi terus dipacu menyusuri kelok demi kelok wilayah jalur selatan Gunung Kidul. Keringat mulai bercucuran, rambut sudah lepek akibat terperangkap dalam helm cukup lama, dan belang di lengan sudah mulai nampak kelihatan. Kami mengambil jalur blusukkan yang tidak dilalui kendaraan besar, yaitu melewati imogiri terus ke arah jalan Panggang. Setelah memacu kendaraan naik turun bukit akhirnya dari kejauhan mulai tampaklah hamparan lautan biru. Itulah pantai kesirat, pantai pertama tujuan kami dari touring jelajah pantai di Gunung Kidul ini.

Setelah menitipkan sepeda motor di dekat warung kecil, kami menyusuri jalan setapak menuju bibir pantai kurang lebih sekitar 1 km. Suasana saat itu tidak begitu ramai, meskipun sudah lewat jam 12 siang. Keringat semakin deras mengucur dan langkah kaki semakin berat. Tak sia-sia bermandikan keringat, kami disuguhkan keindahan pantai yang unik. Iya, pantai ini unik karena di sini tidak ada hamparan pasir putih, yang ada justru tebing karang kokoh yang membetengi deburan ombak. Keunikan lainnya, di saat gelombang air laut menghantam tebing karang tampaklah perpaduan air laut yang indah berwarna hijau kebiruan yang sungguh menyejukkan mata memandang.

Indahnya warna air Pantai Kesirat
Tebing di Pantai Kesirat

Letak geografis Kabupaten Gunung Kidul yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia menjadikannya memiliki potensi pariwisata pantai yang menguntungkan. Hingga saat ini sudah ada hampir 50 spot wisata pantai yang bisa diakses wisatawan. Imbasnya pun pendapatan retribusi daerah lebih dari 80% diperoleh dari wisata pantai ini. Di beberapa pintu masuk kawasan pantai sudah ada petugas retribusi berseragam lengkap yang siaga menarik karcis. Sebagai contoh, di pintu masuk kawasan Pantai Kesirat, Pantai Gesing, dan Pantai Buron wisatawan diwajibkan membayar tiket masuk sebesar 9 ribu rupiah untuk 2 orang yang belum termasuk biaya parkir kendaraan.

Puas menikmati keindahan Pantai Kesirat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Gesing dan Buron. Sayangnya, jalan masuk menuju Pantai tersebut sudah dipadati kendaraan roda empat yang antri mengular. Maklum, di saat musim liburan seperti libur panjang tahun baru ini kawasan wisata pantai di Gunung Kidul selalu dipadati wisatawan. Namun, beberapa spot wisata pantai yang belum begitu populer dikalangan wisatawan bisa menjadi alternatif lain seperti Pantai Ngeden dan Pantai Butuh. Biasanya kawasan wisata pantai yang belum begitu populer ini akses jalannya cukup sulit. Namun, bagi para wisatawan pecinta jelajah track terjal, ini akan menjadi tantangan yang menarik.

Beberapa kali saya sebagai penumpang bolak balik membuka google maps memastikan jalan yang kami tempuh tidak salah. Keluar dari jalan beraspal, motor matic yang kami kendarai mengarah ke jalan kecil yang cukup terjal. Sempat pula saya harus turun dan berjalan kaki supaya motor yang kami kendarai kuat menanjak. Melewati area persawahan dan tegalan yang jauh dari kebisingan dan kemacetan serta berpapasan dengan ibu-ibu pemanggul pakan ternak yang tetap ramah meskipun tampak lelah merupakan gambaran khas suasana pedesaan yang masih asri di sekitar kawasan pantai ini. Dengan berbekal informasi dari penduduk yang kami temui selama di perjalanan, karena sinyal HP semakin menghilang, akhirnya kami bisa sampai di Pantai Ngeden dan Pantai Butuh.

Jalan menuju Pantai Butuh

Di Pantai Ngeden beberapa warung kecil dan juga gubuk peristirahatan sudah dibangun berjejer menghadap ke arah laut lepas. Begitupun fasilitas lain seperti toilet pengunjung dan area parkir motor dan mobil. Sedikit berbeda dengan Pantai Ngeden, selain akses jalannya lebih sulit pembangunan fasilitas wisata di Pantai Butuh juga masih terbatas. Selama di Pantai Butuh kami hanya menjumpai satu warung kecil yang sekaligus sebagai tempat parkir motor. Bahkan saat itu, jumlah wisatawan yang berkunjung bisa dihitung dengan jari-jari sebelah tangan. Namun, justru kawasan pantai seperti inilah yang menjadi tujuan favorit touring kami. Pantai yang belum populer dikalangan wisatawan dengan akses jalan yang cukup sulit mempunyai daya tarik tersendiri. Beruntungnya masih banyak spot-spot pantai baru yang terus mulai dibuka akses nya oleh warga sekitar bekerja sama dengan pemerintah daerah.

Pantai Ngeden
Pantai Butuh

Meninggalkan Pantai Ngeden dan Pantai Butuh, rute selanjutnya yaitu menuju kawasan Pantai Ngrenehan, Nguyahan, dan Ngobaran yang jaraknya cukup jauh yaitu kurang lebih 45 menit. Walapun jaraknya lumayan jauh namun akses jalan menuju pantai sudah bagus. Semua jalannya sudah beraspal dan cukup lebar untuk berpapasan kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Untuk masuk ke kawasan tiga pantai tersebut, wisatawan cukup membayar sekali tiket masuk sebesar sembilan 9 ribu rupiah untuk 2 orang. Kawasan pantai ini terbilang cukup ramai dikunjungi wisatawan. Selain fasilitas wisata yang lebih lengkap, pedagang yang ada juga lebih beragam mulai dari yang menjual makanan ringan dan minuman, menjajakan cindera mata, menyewakan tikar, sampai menjual hasil tangkapan laut yang bisa langsung dimasak.

Pantai Ngrenehan

Pembangunan akses jalan serta fasilitas pendukung pariwisata telah mendorong pertumbuhan sektor ini dalam kontribusinya terhadap pendapatan daerah Kabupaten Gunung Kidul. Sejak kurang lebih 25 tahun lalu pertama kali saya mengunjungi kabupaten ini hingga kali ini, telah banyak pembangunan yang terus digalakkan. Bahkan kabupaten yang terkenal dengan makanan khas Tiwul ini digadang-gadang menjadi Bali keduanya Indonesia. Bagaikan habis gelap terbitlah terang, tak ada yang menyangka bahwa kabupaten yang identik dengan kemiskinan dan kekeringan serta tingkat kasus bunuh diri yang tinggi ini kini menjadi salah satu destinasi wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Melihat Gunung Kidul masa lalu dan masa kini selalu menjadi cerita menarik yang tak pernah habis untuk diulik.

Categories
Life

Pesan COVID-19: Gaya Hidup Sehat Tak Bisa Ditawar Lagi

Terlepas dari dampaknya yang sungguh luar biasa di planet bumi ini, COVID-19 sebetulnya membawa pesan-pesan penting bagi kita. Kita seolah-olah seperti sedang ditampar dengan hadirnya si kecil virus ini. Banyak pelajaran penting yang bisa diambil dari pandemi yang menghantui ratusan negara di berbagai belahan bumi. Salah satu yang terpenting adalah pelajaran tentang menjaga kesehatan diri sendiri. Pada dasarnya sebagian besar orang memahami pentingnya menjaga kesehatan, namun sayangnya tidak semua bisa dan konsisten menjalankan hal itu.

So, ada baiknya kita mulai menanamkan beberapa mindset ini supaya konsisten mempertahankan gaya hidup sehat dan bukan hanya untuk sesaat.

Menjalani hidup sehat itu tidak mudah, tapi jatuh sakit jauh lebih sulit

Di saat rasa malas untuk berolahraga datang ataupun beratnya menghadapi godaan makan makanan tidak sehat makin tak terbendung, jadikan hal ini sebagai alarm untuk merubah mindset. Mindset yang mendorong untuk menjaga diri kita agar tidak jatuh sakit harus dikuatkan dengan cara menstimulasi otak untuk berpikir dan membayangkan manakala sedang sakit dan semua hal yang harus dilakukan jadi semakin sulit karena dampak dari sakit tersebut.

Sehat fisik dan jiwa itu satu paket komplit

Orang yang secara fisik tampak sehat namun jiwanya sakit tentu tidak bisa menikmati hari-hari yang dijalani dengan baik, begitupun sebaliknya. Tak bisa dipungkiri bahwa paket komplit sehat baik itu sehat fisik ataupun jiwa menjadi faktor penting terwujudnya kebahagiaan seseorang dalam menjalani hidupnya. Dengan demikian, menjaga kesehatan fisik dan juga menjaga pola pikir yang sehat untuk kesehatan jiwa sangatlah penting.

Sehat itu tidak hanya membawa dampak positif bagi diri sendiri namun juga keluarga dan orang lain di sekitar kita

Dengan kondisi fisik yang sehat dan tidak membawa penyakit serta didukung dengan kondisi mental yang sehat, maka akan terjalin interaksi yang sehat pula dengan keluarga dan orang-orang di lingkungan sekitar kita. Sehingga akan terjalin relasi yang harmonis dan hangat satu sama lain.

Gaya hidup sehat jangan hanya sesaat, mulailah dari yang paling sederhana dan terus dijaga

Di saat musim penyakit melanda seperti halnya merebaknya virus COVID-19, semua orang mau tidak mau harus menjalani gaya hidup yang sehat jika tidak ingin tertular jenis penyakit ini. Namun, akan lebih baik lagi jika gaya hidup sehat ini terus konsisten dijaga tidak hanya disaat wabah penyakit melanda. Untuk terus konsisten menjalani gaya hidup yang sehat maka paling mudah dilakukan adalah dengan memulai sesuatu dengan cara sederhana yang kemudian perlahan mulai ditingkatkan intensitasnya.

Di masa-masa mendatang, selepas dari wabah COVID-19 ini masih akan ada banyak tantangan yang akan dihadapi. Untuk itu mempersiapkan fisik dan jiwa yang sehat sudah tentu menjadi kewajiban setiap orang yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kunci utama semua itu terlaksana adalah adanya kesadaran diri yang dimulai dari pola pikir atau mindset yang mendukung pentingnya hidup sehat.

Categories
Life Travel

Sailing Komodo Trip #2: Lesson Learned

Tujuan mengikuti trip dari Lombok ke Labuhan Bajo bagi saya tidak hanya sebatas melepas penat setelah bergulat dengan pekerjaan kantoran. Ada hal-hal yang ingin saya cari dari perjalanan ini. Menemukan life lessons from my perspective selalu menjadi misi penting dalam setiap perjalanan saya.

Berikut ini adalah pelajaran penting yang saya dapatkan selama mengikuti open trip sailing komodo.

Do Not Let Pleasure Distract You From The Ways Towards Your Goals

Merasakan kehidupan di atas kapal berhari-hari menjadi sebuah kesempatan bagi saya untuk uji nyali. Sebelum memutuskan mengikuti trip ini saya sudah bisa membayangkan menantangnya tinggal di atas kapal selama 4 hari, terlebih kapal yang digunakan tergolong kapal ekonomi. Artinya, semua fasilitas terbatas.

Matahari sudah mulai terik, saya bersama rombongan turis asing berserta awak kapal dan tour guide sudah bersiap memasuki kapal yang terparkir di Pelabungan Bangsal, Lombok. Setelah semua siap dan mendapatkan pengarahan dari tour guide, kapal perlahan meninggalkan pelabuhan membawa kami mengarungi lautan lepas.

Hari pertama aktivitas banyak dilewatkan di atas kapal. Kami saling berbincang satu sama lain sambil menikmati eksotisme pemadangan di sepanjang perjalanan. Hingga tak terasa malam pun sudah tiba. Malam pertama tidur di deck kapal sudah membuat saya susah terlelap. Ombak di lautan pada malam hari sangat terasa sekali. Saya merasakan tidur seperti di atas ayunan besar yang sedang di dorong sekencang-kencangnya. Saya lihat si embak bule Inggris yang tidur sebelah saya tampak gelisah. Ini baru malam pertama masih ada tiga malam selanjutnya sampai tujuan akhir di Labuhan Bajo. Perjalanan masih panjang, Sist!

Pengalaman melewati malam pertama di atas kapal yang bagi saya cukup menegangkan, akhirnya terbayarkan dengan disambutnya suasana fajar di tengah lautan yang luar biasa cantiknya.

Ketika menjelang sore, senja yang cantik juga tidak lupa menutup hari indah yang kami lalui. Sementara ketika malam datang, ombak yang cukup kencang tetap datang menghantui saya. Terlebih di saat malam kedua, selain ombak yang kencang hujan pun ikut datang meramaikan suasana.

Di hari kedua sampai keempat perjalanan banyak kami lewatkan dengan pemberhentian di beberapa spot obyek wisata seperti Pulau Moyo, Pink Beach, Manta Point, dan Pulau Kelor. Tak perlu diragukan lagi kesemua spot wisata itu luar biasa cantiknya. Rasanya tak ingin kaki ini beranjak meninggalkan keindahan surga dunia tersebut. Sayangnya, perjalanan harus tetap dilanjutkan menuju destinasi terakhir, yaitu Labuhan Bajo.

Memandangi dari kapal, keindahan yang perlahan mulai menjauh seperti tak rela melepaskan. Terkadang ini juga yang nyata sering kita temui dalam kehidupan. Bahwa perjalanan menuju impian kita bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan dan bahkan godaan yang melenakan.

Be Kind For Everyone You Meet, No Matter Who They Are

Sailing komodo ini menjadi open trip pertama kali saya di Indonesia dimana hanya saya wisatawan lokal dalam rombongan, karena selebihnya turis asing Eropa dan Australia. Rombongan kami terdiri dari 15 peserta open trip dan 4 orang awak kapal. Kebanyakan para bule ini ikut open trip dengan membawa pasangan mereka. Jadi bisa dibilang hanya beberapa orang saja, termasuk saya, yang seorang diri bergabung dalam rombongan tersebut.

Meskipun hanya saya seorang diri yang bukan berkulit putih alias bule namun berada dalam rombongan wisatawan asing itu cukup menyenangkan. Saya berasa menjadi turis sekaligus tour guide mereka. Selama 4 hari hidup bersama di atas kapal banyak sekali perbincangan menarik kita tentang Indonesia. Rupanya kebanyakan dari mereka adalah full time traveler yang sudah berminggu-minggu berwisata menjelajahi Indonesia. Jadi semakin bangga menjadi orang Indonesia yang kaya akan budaya dan alam yang eksotis.

Di hari ke-3 setelah melalui pengalaman menegangkan dengan ombak besar dan hujan di tengah lautan, daya tahan tubuh saya perlahan mulai drop. Sakit kepala dan perut yang mulai tidak enak menjadi sudah menjadi alarm ketidakberesan pada tubuh saya. Dari sore hari saya hanya tiduran di matras sambil memandang lautan lepas. Hingga tak terasa saya sudah terlelap akibat efek antimo yang saya minum. Sampai akhirnya, salah seorang bule dari rombongan kami membangunkan untuk makan malam. Sedikit kaget, dengan kepala agak berat saya terbangun dan langsung turun ke bawah untuk bergabung dengan yang lainnya.

Mungkin karena pengaruh obat yang membuat saya seperti orang ‘teler’ pendengaran dan pemahaman saya tidak sinkron. Si Bule tadi menawarkan sepiring nasi dan lauk yang saya pikir itu punya dia yang ditawarkan ke saya. Saya abaikan dengan berlalu dan mengambil makanan prasmanan yang tersisa. Ternyata, bodohnya saya, si bule itu menghampiri saya lagi dengan membawa piring yang sama. Akhirnya saya sadar, bahwa ternyata dia memang sengaja sudah mengambilkan nasi dan lauk makan malam untuk saya supaya tidak kehabisan jika ada yang kalap makan. Duh, malunyaa..

Dari kebersamaan kami selama 4 hari di lautan lepas, saya semakin banyak belajar bahwa berbuat baik itu tidak perlu memandang untuk siapa dan bagaimana orang itu akan membalasnya. Bagaimanapun, kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan untuk orang lain tidak akan pernah sia-sia.

Categories
Life

3M untuk Mengawal Resolusi di Tahun Baru 2020

Setiap pergantian tahun kata ‘resolusi’ selalu menjadi kata yang favorit. Pastinya, di tahun yang baru akan selalu ada harapan atau impian yang ingin dicapai. Bisa jadi harapan itu melanjutkan dari tahun sebelumnya atau hal baru yang ingin dicapai.

Pada intinya, meskipun setiap orang memiliki resolusi yang berbeda-beda namun semua memiliki tujuan yang sama, yaitu mewujudkan resolusi tersebut menjadi kenyataan. Sebagai contoh, resolusi saya di 2020 ini cukup simpel. Pertama, menjaga fisik dan mental tetap sehat. Kedua, memperbanyak menulis dan membaca untuk pengembangan diri. Ketiga, mempelajari hal baru, biasanya ini menjadi resolusi wajib tahunan saya, di 2020 ini saya memilih belajar memainkan alat musik. Mungkin tampaknya resolusi tersebut sederhana, namun saya yakin mewujudkan resolusi yang sederhana sekalipun bukanlah perkara yang mudah.

Dalam mengawal resolusi untuk mewujudkannya menjadi kenyataan bisa dilakukan dengan cara 3M.

Memahami ‘WHY’

M pertama dan yang paling penting sebelum kita menjalankan proses mewujudkan resolusi tersebut adalah memahami ‘why’.

Why do I have to achieve them? Why are they important?

Sebelum memikirkan cara atau ‘how’ nya untuk mencapai tujuan kita, kita harus meyakini dan memastikan apa ‘purpose’ kita sesungguhnya. Hal ini menjadi dasar penting untuk membangun tekad yang kuat dalam diri kita untuk menjalani proses mencapai tujuan tersebut.

Menikmati Proses

M yang kedua adalah menikmati proses dalam mencapai resolusi tersebut. Setelah yakin dengan ‘purpose’ dibalik resolusi yang sudah di buat, selanjutnya adalah menjalankan proses mewujudkannya.

Sebagai contoh untuk untuk mewujudkan resolusi memiliki fisik yang sehat dengan berat badan ideal, setiap hari saya harus membatasi konsumsi nasi dan minuman manis satu kali sehari . Selain itu pagi hari dari jam 6-7 selama 3 kali seminggu rutin berolahraga.

Salah satu cara saya agar tetap enjoy menjalani aktivitas itu adalah dengan menceritakannya kepada sahabat atau keluarga. Menjadikannya perbincangan yang menarik dan bahkan bisa menjadi reminder untuk saya ketika di lain waktu mereka menanyakan lagi bagaimana saya menjalani aktivitas tersebut.

Menyiapkan ‘Environment’ yang Mendukung

M yang ketiga yaitu menyiapkan ‘environment’ yang mendukung tercapainya resolusi kita. Artinya, kita harus bisa membentuk lingkungan keseharian yang memudahkan kita mewujudkan tujuan tersebut.

Sebagai contoh, ketika saya sedang berusaha membatasi konsumsi minuman manis maka saya tidak akan menaruh gula, kopi sachet, atau coklat di tempat yang mudah terlihat dan terjangkau. Hal itu untuk menghindari naiknya hasrat sesaat mengkonsumsi minuman manis dan pada akhirnya saya gagal membendung keinginan tersebut. Sebaliknya ketika saya sedang berusaha meningkatkan intensitas menulis maka saya akan selalu membawa buku catatan menulis saya sesering mungkin. Buku itu harus menjadi barang yg sangat mudah saya temukan sehingga saya akan terdorong untuk menuliskan ide-ide di sana.