Categories
Travel

Sensasi Perjalanan Kereta Kandy-Ella

Kemacetan dan suasana bising klakson di pagi hari sudah menyambut kedatangan saya di kota Kandy, Sri Lanka. Pada hari itu bus yang sejak subuh saya tumpangi dari Dambulla tiba di pusat kota Kandy sekitar pukul 9 pagi. Sebagai salah satu kota terbesar kedua di Sri Lanka setelah Colombo, Kandy pun tak lepas dari hiruk pikuk kemacetan dan kebisingan.

Setelah menembus rangkaian kemacetan kota yang panjang, akhirnya bus kelas ekonomi yang usianya sudah cukup tua itu menepi dan berhenti tepat di samping stasiun kereta Kandy. Menerobos kepadatan orang di dalam bus, akhirnya saya pun keluar sambil memanggul ransel besar.

Meskipun saat itu masih pagi, dari pintu gerbang masuk stasiun sudah tampak keramaian dan antrian panjang di depan loket. Sebagian besar dari mereka adalah para wisatawan asing yang sudah sejak pagi mengantri untuk mendapatkan tiket kereta menuju ke Ella.

Tidak heran jika antusias wisatawan khususnya wisatawan asing sangat tinggi sebab rute perjalanan kereta Kandy-Ella ini merupakan salah satu rute perjalanan kereta terindah di dunia. Sudah banyak sekali para travel blogger yang mengulas tentang perjalanan kereta Kandy-Ella ini dengan foto-foto alamnya yang sangat indah.

Tiket Kereta Kandy-Ella

Ada beberapa cara untuk membeli tiket kereta dari Kandy menuju Ella termasuk jika ingin menghindari antrian panjang di loket. Wisatawan bisa booking online jauh-jauh hari lewat website 12go.asia atau reservasi langsung ke stasiun kereta setidaknya satu hari sebelum keberangkatan.

Bagi wisatawan yang ingin mendapatkan harga paling murah, pilihannya adalah membeli lagsung on the spot di hari H. Tiket yang tersedia untuk pembelian on the spot hanya tiket kelas 2 tanpa reserved seat dan tiket kelas 3. Berikut ini beberapa jenis tiket yang ditawarkan.

1st class ticket– Ticket ini biasanya harus dibeli jauh-jauh hari sebelumnya karena paling cepat sold out. Gerbong kereta untuk first class ticket dilengkapi dengan Ac dan tempat duduknya pun sudah diatur. Biasanya para turis non budget yang lebih banyak membeli tiket ini. Harga tiketnya pada saat itu (tahun 2018) sekitar 1500 LKR atau 118 ribu rupiah.

2nd class ticket– Ada 2 jenis tiket untuk kelas ini yaitu tiket tanpa tempat duduk dan tiket dengan tempat duduk. Saya kebetulan mendapatkan tiket kelas 2 tanpa tempat duduk karena membeli langsung saat hari H keberangkatan. Harga tiket kelas ini jauh lebih murah dibanding tiket kelas 1 yaitu 240 LKR atau sekitar 19 ribu rupiah. Wajar saja harganya lebih murah karena gerbong kereta kelas 2 tidak menggunakan AC melainkan kipas angin.

3rd class ticket– Tiket kereta jenis ini adalah yang paling murah yaitu 130 LKR atau sekitar 10 ribu rupiah dan bisa dibeli on the spot saat hari keberangkatan. Tentunya dengan harga semurah itu untuk 6 jam perjalanan harus dibayar dengan suasana gerbong yang lebih padat dan bahkan tak jarang ada yang membawa binatang ternak seperti ayam masuk ke dalam gerbong.

Suasana Di Dalam Gerbong Kereta

Setelah mendapatkan tiket saya bergegas masuk ke dalam peron stasiun untuk menunggu datangnya kereta. Sayangnya kereta biru yang ditunggu masih belum tiba, meskipun sudah banyak wisatawan yang berdiri berjejer sepanjang peron dengan tas ransel dan koper-koper besarnya.

Perjalanan kereta Kandy-Ella hari itu akan menjadi perjalanan yang melelahkan sekaligus menngesankan. Bayangkan saja dengan berbekal tiket kelas 2 tanpa reserved seat, saya berpotensi berdiri selama 6-7 jam di gerbong kereta yang padat ditemani semilir kipas angin.

Bagaikan berebut durian runtuh begitu kereta yang ditunggu sudah tiba, semua orang saling berebut masuk pintu gerbong. Tidak hanya berebut kursi yang kosong mereka pun berebut tempat penyimpanan bagasi di atas kursi.

Saya kurang beruntung karena kalah cepat dengan bule-bule berbadan besar itu. Setidaknya satu tempat penyimpanan untuk tas ransel besar sudah saya dapatkan, jadi beruntunglah tas ransel saya yang lebih dulu dapat tempat duduk dibandingkan saya. Selebihnya, saya akan menikmati perjalanan panjang ini dengan berdiri seraya berharap ada yang berbaik hati memberikan kursinya. Sayangnya, hal itu tidak terjadi sampai tiga perempat perjalanan lebih saya berdiri.

Suasana di dalam gerbong kereta kelas 2

Pada dasarnya kereta yang saya naiki dari Kandy ke Ella ini jauh dari kata istimewa terlebih jika dibandingkan dengan kereta-kereta jarak jauh yang ada di Indonesia yang kini sudah lebih modern. Baik dari bentuk gerbongnya, tempat duduk, jendela, maupun fasilitas yang ada didalamnya, khususnya untuk gerbong kelas 2 yang saya naiki masih kalah jauh dari gerbong kereta ekonomi Jakarta-Bandung.

Pemandangan Hijau Selama Di Perjalanan

Saya yakin para wisatawan ini termasuk saya rela berdesakan dan naik kereta yang cukup padat dan panas ini hanya demi bisa menikmati pemandangan selama perjalanan menuju Ella yang terkenal dengan keindahan alamnya. Memang bisa dibilang selama perjalanan pemandangan hamparan kebun teh hijau dan pohon pinus di sisi kanan dan kiri menjadi penyejuk panasnya suasana di dalam kereta.

Tapi sepertinya saya terlalu berharap sangat tinggi dengan pengalaman menaiki kereta Kandy-Ella ini. Terus terang memang indah pemandangannya namun hamparan hijau perkebunan teh dan hutan pinus seperti ini banyak juga dijumpai di Indonesia. Bagaimanapun saya bangga menjadi orang Indonesia, negara yang memiliki kekayaan alam yang beragam dan indah.

Satu hal menarik yang juga saya temui selama di perjalanan ini adalah ritual untuk berfoto di pintu gerbong kereta dengan posisi setengah badan condong ke luar di saat kereta tengah berjalan. Memang sangat beresiko namun banyak sekali travel blogger yang meliput perjalanan kereta ini selalu memposting foto dengan pose demikian. Agaknya pose ini sudah menjadi ritual khusus para wisatawan sebagai pembuktian bahwa mereka sudah menjajal salah satu trip kereta paling cantik di dunia ini.

Setelah lelah setengah harian bergelantungan dan berdesakan di gerbong kereta, akhirnya sekitar pukul setengah 5 sore kereta ini tiba di stasiun Ella. Jangan kaget merasakan perbedaan dari kota besar seperti Kandy (ya walaupun masih kalah jauh dibanding Jakarta) dan kemudian memasuki sebuah distrik kecil seperti Ella. Suasana stasiunnya saja benar-benar seperti stasiun kuno di daerah pelosok. Tapi jangan salah, begitu keluar dari stasiun kalian akan merasakan kesejukan udara pegunungan yang masih belum banyak terpapar polusi.

Begitulah akhir perjalanan saya mencoba salah satu rute kereta terindah di dunia. Meskipun ekspektasi saya terlalu tinggi namun perjalanan ini layak dicoba khususnya bagi kalian para backpacker yang lebih menyukai wisata dengan budget terbatas. Oh ya, ketika sudah sampai di Ella satu hal yang tidak bisa dilewatkan adalah mendaki Little Adam’s Peak. Nantikan cerita saya selanjutnya.

Categories
Travel

Geliat Eksotisme Pariwisata Gunung Kidul (Part 1)

Belokan tajam jalan-jalan kecil yang berpadu dengan hijaunya pepohonan di kanan kirinya serta senyum hangat dari ’embah-embah’ yang tetap perkasa menggendong rumput pakan ternak menjadi salah satu gambaran harmonisnya keindahan alam dan masyarakat di Kabupaten Gunung Kidul. Saya tak pernah bosan untuk datang menyaksikan bagaimana alam dan kehidupan masyarakat menyatu erat beriringan mengikuti arah perkembangan jaman. Seiring waktu berjalan Gunung Kidul terus menggeliat dan menampakkan pesona nya yang memikat.

Ditengah teriknya matahari, motor matic yang kami tumpangi terus dipacu menyusuri kelok demi kelok wilayah jalur selatan Gunung Kidul. Keringat mulai bercucuran, rambut sudah lepek akibat terperangkap dalam helm cukup lama, dan belang di lengan sudah mulai nampak kelihatan. Kami mengambil jalur blusukkan yang tidak dilalui kendaraan besar, yaitu melewati imogiri terus ke arah jalan Panggang. Setelah memacu kendaraan naik turun bukit akhirnya dari kejauhan mulai tampaklah hamparan lautan biru. Itulah pantai kesirat, pantai pertama tujuan kami dari touring jelajah pantai di Gunung Kidul ini.

Setelah menitipkan sepeda motor di dekat warung kecil, kami menyusuri jalan setapak menuju bibir pantai kurang lebih sekitar 1 km. Suasana saat itu tidak begitu ramai, meskipun sudah lewat jam 12 siang. Keringat semakin deras mengucur dan langkah kaki semakin berat. Tak sia-sia bermandikan keringat, kami disuguhkan keindahan pantai yang unik. Iya, pantai ini unik karena di sini tidak ada hamparan pasir putih, yang ada justru tebing karang kokoh yang membetengi deburan ombak. Keunikan lainnya, di saat gelombang air laut menghantam tebing karang tampaklah perpaduan air laut yang indah berwarna hijau kebiruan yang sungguh menyejukkan mata memandang.

Indahnya warna air Pantai Kesirat
Tebing di Pantai Kesirat

Letak geografis Kabupaten Gunung Kidul yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia menjadikannya memiliki potensi pariwisata pantai yang menguntungkan. Hingga saat ini sudah ada hampir 50 spot wisata pantai yang bisa diakses wisatawan. Imbasnya pun pendapatan retribusi daerah lebih dari 80% diperoleh dari wisata pantai ini. Di beberapa pintu masuk kawasan pantai sudah ada petugas retribusi berseragam lengkap yang siaga menarik karcis. Sebagai contoh, di pintu masuk kawasan Pantai Kesirat, Pantai Gesing, dan Pantai Buron wisatawan diwajibkan membayar tiket masuk sebesar 9 ribu rupiah untuk 2 orang yang belum termasuk biaya parkir kendaraan.

Puas menikmati keindahan Pantai Kesirat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Gesing dan Buron. Sayangnya, jalan masuk menuju Pantai tersebut sudah dipadati kendaraan roda empat yang antri mengular. Maklum, di saat musim liburan seperti libur panjang tahun baru ini kawasan wisata pantai di Gunung Kidul selalu dipadati wisatawan. Namun, beberapa spot wisata pantai yang belum begitu populer dikalangan wisatawan bisa menjadi alternatif lain seperti Pantai Ngeden dan Pantai Butuh. Biasanya kawasan wisata pantai yang belum begitu populer ini akses jalannya cukup sulit. Namun, bagi para wisatawan pecinta jelajah track terjal, ini akan menjadi tantangan yang menarik.

Beberapa kali saya sebagai penumpang bolak balik membuka google maps memastikan jalan yang kami tempuh tidak salah. Keluar dari jalan beraspal, motor matic yang kami kendarai mengarah ke jalan kecil yang cukup terjal. Sempat pula saya harus turun dan berjalan kaki supaya motor yang kami kendarai kuat menanjak. Melewati area persawahan dan tegalan yang jauh dari kebisingan dan kemacetan serta berpapasan dengan ibu-ibu pemanggul pakan ternak yang tetap ramah meskipun tampak lelah merupakan gambaran khas suasana pedesaan yang masih asri di sekitar kawasan pantai ini. Dengan berbekal informasi dari penduduk yang kami temui selama di perjalanan, karena sinyal HP semakin menghilang, akhirnya kami bisa sampai di Pantai Ngeden dan Pantai Butuh.

Jalan menuju Pantai Butuh

Di Pantai Ngeden beberapa warung kecil dan juga gubuk peristirahatan sudah dibangun berjejer menghadap ke arah laut lepas. Begitupun fasilitas lain seperti toilet pengunjung dan area parkir motor dan mobil. Sedikit berbeda dengan Pantai Ngeden, selain akses jalannya lebih sulit pembangunan fasilitas wisata di Pantai Butuh juga masih terbatas. Selama di Pantai Butuh kami hanya menjumpai satu warung kecil yang sekaligus sebagai tempat parkir motor. Bahkan saat itu, jumlah wisatawan yang berkunjung bisa dihitung dengan jari-jari sebelah tangan. Namun, justru kawasan pantai seperti inilah yang menjadi tujuan favorit touring kami. Pantai yang belum populer dikalangan wisatawan dengan akses jalan yang cukup sulit mempunyai daya tarik tersendiri. Beruntungnya masih banyak spot-spot pantai baru yang terus mulai dibuka akses nya oleh warga sekitar bekerja sama dengan pemerintah daerah.

Pantai Ngeden
Pantai Butuh

Meninggalkan Pantai Ngeden dan Pantai Butuh, rute selanjutnya yaitu menuju kawasan Pantai Ngrenehan, Nguyahan, dan Ngobaran yang jaraknya cukup jauh yaitu kurang lebih 45 menit. Walapun jaraknya lumayan jauh namun akses jalan menuju pantai sudah bagus. Semua jalannya sudah beraspal dan cukup lebar untuk berpapasan kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Untuk masuk ke kawasan tiga pantai tersebut, wisatawan cukup membayar sekali tiket masuk sebesar sembilan 9 ribu rupiah untuk 2 orang. Kawasan pantai ini terbilang cukup ramai dikunjungi wisatawan. Selain fasilitas wisata yang lebih lengkap, pedagang yang ada juga lebih beragam mulai dari yang menjual makanan ringan dan minuman, menjajakan cindera mata, menyewakan tikar, sampai menjual hasil tangkapan laut yang bisa langsung dimasak.

Pantai Ngrenehan

Pembangunan akses jalan serta fasilitas pendukung pariwisata telah mendorong pertumbuhan sektor ini dalam kontribusinya terhadap pendapatan daerah Kabupaten Gunung Kidul. Sejak kurang lebih 25 tahun lalu pertama kali saya mengunjungi kabupaten ini hingga kali ini, telah banyak pembangunan yang terus digalakkan. Bahkan kabupaten yang terkenal dengan makanan khas Tiwul ini digadang-gadang menjadi Bali keduanya Indonesia. Bagaikan habis gelap terbitlah terang, tak ada yang menyangka bahwa kabupaten yang identik dengan kemiskinan dan kekeringan serta tingkat kasus bunuh diri yang tinggi ini kini menjadi salah satu destinasi wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Melihat Gunung Kidul masa lalu dan masa kini selalu menjadi cerita menarik yang tak pernah habis untuk diulik.

Categories
Life Travel

Sailing Komodo Trip #2: Lesson Learned

Tujuan mengikuti trip dari Lombok ke Labuhan Bajo bagi saya tidak hanya sebatas melepas penat setelah bergulat dengan pekerjaan kantoran. Ada hal-hal yang ingin saya cari dari perjalanan ini. Menemukan life lessons from my perspective selalu menjadi misi penting dalam setiap perjalanan saya.

Berikut ini adalah pelajaran penting yang saya dapatkan selama mengikuti open trip sailing komodo.

Do Not Let Pleasure Distract You From The Ways Towards Your Goals

Merasakan kehidupan di atas kapal berhari-hari menjadi sebuah kesempatan bagi saya untuk uji nyali. Sebelum memutuskan mengikuti trip ini saya sudah bisa membayangkan menantangnya tinggal di atas kapal selama 4 hari, terlebih kapal yang digunakan tergolong kapal ekonomi. Artinya, semua fasilitas terbatas.

Matahari sudah mulai terik, saya bersama rombongan turis asing berserta awak kapal dan tour guide sudah bersiap memasuki kapal yang terparkir di Pelabungan Bangsal, Lombok. Setelah semua siap dan mendapatkan pengarahan dari tour guide, kapal perlahan meninggalkan pelabuhan membawa kami mengarungi lautan lepas.

Hari pertama aktivitas banyak dilewatkan di atas kapal. Kami saling berbincang satu sama lain sambil menikmati eksotisme pemadangan di sepanjang perjalanan. Hingga tak terasa malam pun sudah tiba. Malam pertama tidur di deck kapal sudah membuat saya susah terlelap. Ombak di lautan pada malam hari sangat terasa sekali. Saya merasakan tidur seperti di atas ayunan besar yang sedang di dorong sekencang-kencangnya. Saya lihat si embak bule Inggris yang tidur sebelah saya tampak gelisah. Ini baru malam pertama masih ada tiga malam selanjutnya sampai tujuan akhir di Labuhan Bajo. Perjalanan masih panjang, Sist!

Pengalaman melewati malam pertama di atas kapal yang bagi saya cukup menegangkan, akhirnya terbayarkan dengan disambutnya suasana fajar di tengah lautan yang luar biasa cantiknya.

Ketika menjelang sore, senja yang cantik juga tidak lupa menutup hari indah yang kami lalui. Sementara ketika malam datang, ombak yang cukup kencang tetap datang menghantui saya. Terlebih di saat malam kedua, selain ombak yang kencang hujan pun ikut datang meramaikan suasana.

Di hari kedua sampai keempat perjalanan banyak kami lewatkan dengan pemberhentian di beberapa spot obyek wisata seperti Pulau Moyo, Pink Beach, Manta Point, dan Pulau Kelor. Tak perlu diragukan lagi kesemua spot wisata itu luar biasa cantiknya. Rasanya tak ingin kaki ini beranjak meninggalkan keindahan surga dunia tersebut. Sayangnya, perjalanan harus tetap dilanjutkan menuju destinasi terakhir, yaitu Labuhan Bajo.

Memandangi dari kapal, keindahan yang perlahan mulai menjauh seperti tak rela melepaskan. Terkadang ini juga yang nyata sering kita temui dalam kehidupan. Bahwa perjalanan menuju impian kita bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan dan bahkan godaan yang melenakan.

Be Kind For Everyone You Meet, No Matter Who They Are

Sailing komodo ini menjadi open trip pertama kali saya di Indonesia dimana hanya saya wisatawan lokal dalam rombongan, karena selebihnya turis asing Eropa dan Australia. Rombongan kami terdiri dari 15 peserta open trip dan 4 orang awak kapal. Kebanyakan para bule ini ikut open trip dengan membawa pasangan mereka. Jadi bisa dibilang hanya beberapa orang saja, termasuk saya, yang seorang diri bergabung dalam rombongan tersebut.

Meskipun hanya saya seorang diri yang bukan berkulit putih alias bule namun berada dalam rombongan wisatawan asing itu cukup menyenangkan. Saya berasa menjadi turis sekaligus tour guide mereka. Selama 4 hari hidup bersama di atas kapal banyak sekali perbincangan menarik kita tentang Indonesia. Rupanya kebanyakan dari mereka adalah full time traveler yang sudah berminggu-minggu berwisata menjelajahi Indonesia. Jadi semakin bangga menjadi orang Indonesia yang kaya akan budaya dan alam yang eksotis.

Di hari ke-3 setelah melalui pengalaman menegangkan dengan ombak besar dan hujan di tengah lautan, daya tahan tubuh saya perlahan mulai drop. Sakit kepala dan perut yang mulai tidak enak menjadi sudah menjadi alarm ketidakberesan pada tubuh saya. Dari sore hari saya hanya tiduran di matras sambil memandang lautan lepas. Hingga tak terasa saya sudah terlelap akibat efek antimo yang saya minum. Sampai akhirnya, salah seorang bule dari rombongan kami membangunkan untuk makan malam. Sedikit kaget, dengan kepala agak berat saya terbangun dan langsung turun ke bawah untuk bergabung dengan yang lainnya.

Mungkin karena pengaruh obat yang membuat saya seperti orang ‘teler’ pendengaran dan pemahaman saya tidak sinkron. Si Bule tadi menawarkan sepiring nasi dan lauk yang saya pikir itu punya dia yang ditawarkan ke saya. Saya abaikan dengan berlalu dan mengambil makanan prasmanan yang tersisa. Ternyata, bodohnya saya, si bule itu menghampiri saya lagi dengan membawa piring yang sama. Akhirnya saya sadar, bahwa ternyata dia memang sengaja sudah mengambilkan nasi dan lauk makan malam untuk saya supaya tidak kehabisan jika ada yang kalap makan. Duh, malunyaa..

Dari kebersamaan kami selama 4 hari di lautan lepas, saya semakin banyak belajar bahwa berbuat baik itu tidak perlu memandang untuk siapa dan bagaimana orang itu akan membalasnya. Bagaimanapun, kebaikan sekecil apapun yang kita lakukan untuk orang lain tidak akan pernah sia-sia.

Categories
Travel

Sailing Komodo #1 : Itinerary dan Budget

Traveling ke Indonesia bagian timur merupakan salah satu impian saya sejak lama. Tidak diragukan lagi bahwa Indonesia Timur menyimpan kekayaan alam yang luar biasa indahnya sehingga menjadi salah satu destinasi wisata populer di Indonesia.

Di akhir Oktober 2018, seminggu sebelum last day saya bekerja di suatu perusahaan start up e-commerceorange‘, tiba-tiba hasrat menjelajah ke Indonesia Timur muncul kembali. Seakan ingin menumpahkan semua beban kehidupan sebagai pekerja kantoran dan menikmati masa-masa sebagai pengangguran, dengan ‘gercep’nya saya memutuskan ikut open trip Sailing Komodo dari Lombok ke Labuhan Bajo selama 4 hari 3 malam. Tepat di hari terakhir saya bekerja, esok subuhnya saya langsung terbang ke Lombok dengan first flight untuk memulai semua penjelajahan itu.

Trip Sailing Komodo merupakan trip dengan kapal menuju Labuhan Bajo dengan pemberhentian di beberapa tempat tempat wisata. Umumnya trip ini terbagi menjadi 2 starting point yaitu dari Lombok dan dari Labuhan Bajo. Kebanyakan wisatawan lebih memilih starting point dari Labuhan Bajo kembali ke Labuhan Bajo lagi karena biasanya durasi trip lebih singkat. Selain itu, karena tidak memakan waktu lama perjalanan di atas kapal, biasanya obyek wisata yang dikunjungi lebih banyak. Sementara trip dari Lombok lebih banyak diminati para wisatawan yang ingin merasakan bagaimana kehidupan di atas kapal di tengah lautan selama perjalanan berhari-hari menantang derasnya ombak dari Lombok ke Labuhan Bajo.

Harga open trip Sailing Komodo biasanya disesuaikan dengan beberapa hal seperti durasi trip, kapal yang digunakan, dan fasilitas-fasilitas yang didapatkan selama di perjalanan. Biaya tersebut sudah termasuk makan dan snack di kapal, kopi, teh, air minum botol, peralatan tidur, peralatan snorkling, dan tiket masuk ke obyek-obyek wisata. Paket Trip yang saya ambil ini termasuk yang low budget namun fasilitasnya lumayan memuaskan. Kapal yang digunakan bukan kapal ber AC dan semua peserta trip tidur di deck kapal yang sudah disediakan bantal dan selimut. Secara keseluruhan walaupun low budget tapi cukup nyaman untuk 4 hari tinggal di atas kapal.

Kapal yang saya gunakan sedang parkir di Pulau Moyo

Total saya menghabiskan waktu travelling dari Lombok ke Labuhan Bajo selama 8 hari dimana 4 hari saya habiskan untuk tinggal di kapal yang setiap malamnya seperti tidur di atas ayunan besar.

Berikut adalah itinerary dan budget yang saya keluarkan selama mengikuti trip tersebut.

Day 1

Berangkat dari Soekarno Hatta Int. Airport menuju Lombok Int. Airport dengan first flight. Sampai di Lombok istirahat di hotel dan menikmati sore di pantai Senggigi. Tiket flight Jakarta ke Lombok : IDR 1,300,000 Tiket bus Damri dari Lombok Int. Airport ke hotel di Senggigi : IDR 35.000 Hotel area Senggigi 2D1N : IDR 286,000 Makan siang dan malam : IDR 130,000

Day 2

Pagi hari dijemput oleh agen tour untuk diantar ke Pelabuhan Bangsal Lombok dan persiapan untuk sailing komodo selama 4 hari dari Lombok ke Labuhan Bajo. Hari pertama memulai sailing komodo saya lewatkan dengan menikmati suasana di atas kapal dan bermalam bersama dengan traveller lain yang kesemuanya bule terkecuali saya dan kru kapal. Budget open trip sailing komodo non AC 4D3N : IDR 1,750,000

Day 3

Mengunjungi Pulau Moyo dan trekking ke air terjun. Perjalanan masuk ke Pulau Moyo melewati hutan-hutan kecil dan yang paling harus berhati-hati yaitu saat naik ke atas menuju air terjun kedua melewati batu-batuan di sisi air terjun pertama yang sangat licin.

Day 4

Menikmati penjelajahan eksotis di Taman Nasional Komodo serta menikmati keindahan Pink Beach dan snorkling di Manta Point. Ini pertama kalinya saya bertemu ’embahnya’ Kadal alias Komodo. Selain itu yang paling mengesankan lagi adalah keindahan Pink Beach. Ini pantai terindah yang pernah saya lihat selama hidup saya.

Day 5

Mengunjungi Pulau Kelor dan trekking ke atas bukit dengan pemandangan yang luar biasa memikat. Saya lupa nama bukitnya, tapi dari atas bukit ini, yang tidak terlalu susah di daki, bisa melihat surga gugusan pulau indah yang dikelilingi perairan jernih. Setelah makan siang di kapal lalu kami mulai melanjutkan perjalanan menuju Labuhan Bajo.

Day 6

Tepar di Hotel di Labuhan Bajo setelah 4 hari 3 malam mengarungi lautan, tidur, makan, dan sekali mandi di Kapal. Budget menginap 2 malam di Hotel di area Kampung Ujung : IDR 340,000

Day 7

Menikmati kota kecil Labuhan Bajo, wisata kuliner ikan bakar dan seafood di Kampung Ujung, berbelanja souvenir dan oleh-oleh di pasar. Wisata kuliner selama 2 hari : IDR 300,000

Day 8

Bye Bye Labuhan Bajo. Melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dari Komodo Airport dan transit di Juanda Airport, Surabaya. Tiket Flight Labuhan Bajo-Yogyakarta : 1,400,000

Jadi total 8 hari traveling saya dari Lombok ke Labuhan Bajo menghabiskan dana sekitar IDR 5,541,000 all in. Harga ini bisa jadi lebih murah jika tiket pesawat dan booking hotel dilakukan jauh-jauh hari. Namun demikian dengan budget 5 juta-an sudah sangat puas menikmati eksotisme alam Indonesia Timur dengan penjelajahan menantang mengarungi lautan dari Lombok ke Labuhan Bajo.